BOOOOOM! BOOOOOM! BOOOOOM!
Rentetan ledakan thermite pertama mulai bergetar hebat dari kedalaman pilar paku bumi Menara Apex Nusantara! Dinding-dinding baja katedral Tabut Hitam retak dahsyat, memuntahkan lidah api jingga membara dan debu beton yang pekat. Suhu di dalam ruangan katedral bawah tanah melambung tinggi dalam hitungan detik saat sistem pendingin nitrogen cair meledak hancur berkeping-keping.
"Waktu kita tersisa lima menit, Arka! Lorong lift bawah tanah sudah mulai runtuh!" jerit Sarah sembari merangsek maju menembus gumpalan asap hitam tebal, memandu jalan menuju kabin lift darurat.
Arka merangkul erat bahu Sarah dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang cengkeraman baja pada kerah jas Dharmawan Soerjo yang sudah terkulai lemas tanpa daya. Sang taipan tua itu menatap nanar sekelilingnya, menyaksikan benteng rahasia yang ia bangun selama empat dekade kini luluh lantak digulung kobaran api keadilan.
DDUUUUMMM-KRAAGH!
Atap lorong beton bawah tanah runtuh seketika! Bongkahan batu granit berbobot belasan ton jatuh tepat menutupi jalur lari mereka.
"Awas!" bentak Arka.
VRRRRRR-BOOOOOOM!
Kunci Tembaga di genggaman Arka menyalak dahsyat! Pancaran gelombang magnetik berbentuk kepala serigala emas melesat ke atas, menghancurkan reruntuhan granit tersebut menjadi serpihan debu halus sebelum sempat menimpa mereka. Tanpa mengulur waktu selangkah pun, Arka melempar tubuh Dharmawan ke dalam kabin lift darurat, disusul Sarah dan dirinya sendiri.
"Sarah, tekan tombol balik darurat sekarang!" perintah Arka dengan napas menderu.
Sarah menghantam tombol manual Overdrive Output. Kabin lift baja melesat naik dengan kecepatan tinggi, membelah lorong vertikal yang dipenuhi gemuruh ledakan thermite yang menjalar beruntun dari lantai bawah tanah hingga struktur lobi utama gedung.
SZZZZZT-CRASH!