Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #39

CAHAYA DI UFUK BARU

Enam bulan berlalu sejak keruntuhan Menara Apex Nusantara dan tumbangnya benteng terakhir Konsorsium.

Di Pengadilan Tinggi Jakarta, persidangan terbesar dalam sejarah peradaban modern Indonesia telah mengetukkan palu keadilan yang paling menentukan. Dharmawan Soerjo, Jenderal Purnawirawan Hendra Wijaya, beserta 142 pejabat tinggi, taipan bisnis global, dan komandan keamanan yang terbukti menjadi antek Konsorsium dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa remisi sedikit pun. Seluruh aset haram senilai puluhan triliun rupiah yang tersimpan di berbagai rekening lepas pantai disita total oleh negara untuk pembangunan fasilitas publik, sekolah rakyat, dan Rumah Sakit Gratis di wilayah terpencil.

Gelombang reformasi hukum dan transparansi digital menyapu bersih sisa-sisa akar korupsi di setiap penjuru negeri. Kebangkitan kesadaran nasional yang dipicu oleh perjuangan Arka dan Sarah telah mengubah wajah bangsa Indonesia secara mendasar.

Di atas pelataran Teras Kesatu Gunung Padang, angin sore bertiup sepoi-sepoi membelah dedaunan pinus yang hijau rindang. Tempat purba yang dulunya hampir musnah dilumat gelegar generator seismik itu kini telah direstorasi penuh oleh tim arkeologi nasional dan dilindungi sebagai cagar budaya serta warisan kebanggaan bangsa.

Arka berdiri tegak di tepi tebing, memandang hamparan lembah Cianjur yang hijau membiru disiram pijar keemasan matahari terbenam. Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang berliku lembut ditiup angin sore. Di lengan kiri bawahnya, tato kuno berukir kepala serigala—simbol Kunci Tembaga—kini berpendar redup dan hangat, telah menyatu sepenuhnya dengan aliran darah, otot, dan jiwanya sebagai penjelmaan pilar pelindung nusantara yang abadi.

Suara langkah kaki yang renyah di atas rumput mendekatinya dari arah punden utama. Sarah melangkah anggun dengan celana jeans dan jaket kulit kesayangannya, membawa dua cangkir kopi hitam hangat yang memulak uap tipis.

"Nostalgia?" tanya Sarah lembut seraya menyerahkan salah satu cangkir kopi kepada Arka, lalu berdiri tepat di sampingnya memandang laut awan di bawah tebing.

Lihat selengkapnya