Tiga bulan setelah momen bersejarah dan haru di puncak Gunung Padang, kapal riset canggih KM Samudra Nusantara membelah ombak biru kelam di perairan lepas Palung Banda. Di bawah naungan langit malam yang bertabur jutaan bintang, kapal bermesin hibrida anti-radar itu berlayar tenang menuju titik koordinat anomali elektromagnetik yang sempat terdeteksi oleh jaringan pemindai satelit Mata Nusantara.
Di dalam ruang kendali utama kapal yang dipenuhi deretan monitor holographic transparan, Sarah sibuk mengamati grafik frekuensi sonik yang bergelombang naik-turun. Wajah cantiknya yang diterpa pendar biru layar tampak begitu serius, jemarinya menari lincah di atas papan ketik virtual berkecepatan tinggi.
"Arka, frekuensi gelombang ini makin aneh dan membesar," ujar Sarah tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar utama. "Ini jelas bukan gelombang sonik dari aktivitas vulkanik atau sinyal radar militer biasa. Pola denyut periodiknya persis sama dengan frekuensi Obsidian Emas Purba saat Kunci Tembaga lu aktifkan penuh di katedral bawah tanah Sektor Tujuh."
Arka melangkah mendekat dari pintu kedap udara, berdiri tegap di samping kursi kapten. Pria itu kini mengenakan baju selam taktis khusus berbahan serat karbon fleksibel bertulang titanium. Di lengan kirinya, tato kuno berukir kepala serigala Kunci Tembaga berdenyut pelan, memancarkan pendar cahaya emas tipis seirama dengan denyut sinyal di layar monitor.
"Lautan Banda ini menyimpan rahasia yang jauh lebih tua dari peradaban yang kita kenal, Sarah," bisik Arka pelan namun mantap. Tangannya yang kuat menyentuh dinding kaca kapal, menatap kegelapan samudra dalam yang tak bertepi. "Sejak kita memasuki zona batas Palung Banda, Kunci Tembaga di tanganku terasa... gelisah. Seolah-olah ada energi raksasa di dasar laut yang sedang memanggilnya untuk bangkit."
BZZZZZZT-KRRRKKK!
Tiba-tiba, seluruh sistem navigasi elektronik kapal bergetar hebat! Lampu indikator di ruang kendali berkedip merah secara serentak memecah ketenangan malam.
[PERINGATAN: GANGGUAN MAGNETIK EKSTREM DI KEDALAMAN 4.000 METER]