Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #44

PENYATAN DUA KUNCI

BZZZZZZT-KRRRRAKH!

Tubuh Komandan Vance terkapar tak berdaya di atas puing-puing pilar batu, armor besinya hancur berkeping-keping dan sistem cybernetic-nya mati total. Di tengah remang katedral bawah tanah, Arka berdiri tegak memegang dua pusaka kuno terbesar peradaban Atlantis Nusantara: Kunci Tembaga yang bersinar keemasan di lengan kirinya, dan intan Obsidian Hitam yang memercikkan arus petir keunguan di genggaman tangan kanannya.

Namun, ancaman besar belum berakhir.

Altar Core Generator di pusat piramida masih meraung hebat. Inti energi purba di bawah tanah yang telah terkontaminasi oleh daya racun Obsidian Hitam kini bergejolak melampaui ambang batas kestabilan. Dinding-dinding batu katedral retak makin lebar, memuntahkan uap panas dan hembusan udara hidrothermal bertekanan tinggi.

BZZZZT-CRACKLE!

"Arka! Sinyal gelombang gempa di permukaan naik lagi!" jerit suara Sarah melalui earpiece komunikator, diselingi deru dentuman artileri pertahanan udara KM Samudra Nusantara. "Dua kapal selam siluman Leviathan sudah berhasil kami lumpuhkan dengan peretas sinyal EMP! Tapi instrumen pemindai mencatat Core Generator bawah laut itu berada dalam fase lonjakan termal melipatgandakan energi! Dalam tiga menit, inti palung akan runtuh dan memicu mega-tsunami!"

Arka menatap dua intan di kedua tangannya. Pendar emas melambangkan daya kehidupan dan perlindungan, sementara pendar ungu melambangkan daya penghancur dan pengurasan. Dua kutub energi yang saling berlawanan, namun sejatinya tercipta dari akar peradaban yang sama.

"Sarah... dua batu ini bukan untuk memusnahkan," ujar Arka dengan nada tenang, tatapannya mantap menembus gejolak aura ungu di altar. "Obsidian Hitam ini rusak karena disalahgunakan oleh keserakahan manusia. Gue harus menyatukan dan memurnikan kembali frekuensinya dengan Kunci Tembaga!"

Lihat selengkapnya