Enam bulan setelah peristiwa bersejarah di Palung Banda, lautan timur Indonesia telah menjadi zona paling stabil di sepanjang kawasan Cincin Api Pasifik. Namun bagi Arka dan Sarah, kedamaian bukanlah alasan untuk berhenti waspada.
Di perairan tenang utara Jawa, tepatnya di sekitar gugusan Kepulauan Karimunjawa, kapal riset KM Samudra Nusantara kembali membuang jangkar. Kali ini, ekspedisi mereka membawa misi yang tak kalah sakral: menginvestigasi struktur bangunan megalitikum bawah laut yang telah tenggelam sejak berakhirnya Zaman Es, belasan ribu tahun silam.
Arka berdiri di geladak kapal, menatap permukaan laut biru keemasan yang tenang. Di lengan kirinya, pendar pirus Kunci Tembaga dan pecahan Obsidian Hitam yang telah terpadu kini berdenyut lembut, memancarkan kehangatan yang seirama dengan denyut bumi di bawah pijakan kakinya.
"Sinyal resonansinya berasal dari kedalaman delapan puluh meter di dasar laut," ujar Sarah seraya melangkah keluar dari kabin laboratorium, membawa tablet navigasi holografik. "Struktur batu di bawah Karimunjawa ini bukan punden berundak biasa, Arka. Ini adalah Prasasti Utama Sundaland—perpustakaan pengetahuan purba tempat para leluhur merekam sejarah terciptanya Kunci Tembaga."
Tanpa membuang waktu, Arka dan Sarah mengenakan baju selam taktis generasi baru bertulang titanium. Bersama-sama, mereka meluncur menembus jernihnya air Laut Jawa, menyelam menuju celah reruntuhan candi raksasa yang tertutup terumbu karang dan lumut laut kuno.
Saat kaki mereka mendarat di atas pelataran utama candi bawah laut, pendar pirus di lengan Arka mendadak menyala terang!