Gelombang raksasa Samudra Pasifik Barat memukul keras lambung titanium KM Samudra Nusantara yang melesat dengan kecepatan penuh lima puluh knot. Di bawah naungan langit malam yang diselimuti badai elektrik, kapal riset canggih itu membelah batas perairan internasional, menuju zona terlarang di sekitar Palung Mariana titik terdalam di muka bumi.
Di dalam ruang kendali utama, suasana terasa amat tegang. Deretan layar holografik memetakan struktur topografi Palung Mariana yang curam dan gelap gulita.
"Data intelijen dari jaringan Mata Nusantara sudah valid," ujar Sarah, jemarinya menari lincah di atas keyboard transparan. "Aegis Syndicate bukan sekadar organisasi militer swasta seperti Leviathan. Mereka adalah gabungan elite oligarki global yang telah mengumpulkan artefak purba sejak abad ke-19. Selama ini mereka bergerak di balik layar negara-negara adidaya."
Arka berdiri di samping meja navigasi, menyesuaikan tali armor taktis pirusnya. Di lengan kirinya, tato Serigala Pirus berdenyut cepat, memancarkan pendar pirus-keemasan yang semakin hangat seiring makin dekatnya mereka ke Palung Mariana.
"Mereka mencuri Pasak Ketiga untuk memicu ketidakstabilan iklim global," cetus Arka dengan suara rendah yang tegas. "Kalau jaringan tujuh pasak ini terputus, keseimbangan tektonik bumi akan hancur dan mereka bisa menjual teknologi penyeimbang buatan dengan harga miliaran dolar kepada dunia."
"Tepat sekali," sahut Sarah. "Dan mereka tahu kita sedang datang."
BZZZZZZT-SIRIENNNNN!
Tiba-tiba, seluruh sistem pemindai kapal meraung keras! Peringatan warna merah menyala berkedip serentak di setiap sudut layar kendali.
[PERINGATAN SIS-TEMPAR: KONTAK DREADNOUGHT SILUMAN TERDETEKSI]