Angin badai kutub berkecepatan seratus dua puluh kilometer per jam meluncur liar melintasi hamparan es abadi Queen Maud Land di Benua Antartika. Suhu udara menancap ekstrem di angka minus enam puluh derajat Celsius, mengubah setiap tetes kelembapan udara menjadi kristal es beracun yang sanggup membekukan paru-paru manusia hanya dalam hitungan detik.
Di tengah padang salju yang mematikan tersebut, sebuah alur cahaya pirus membelah badai putih.
Kapal eksplorasi taktis berteknologi perisai Pirus, KM Samudra Nusantara II hasil modifikasi gabungan teknologi Kunci Tembaga dan sistem pendingin amfibi BSSN menerjang gelombang es dengan pendorong gelombang magnetik. Di dalam ruang kendali utama yang hangat dan diterangi pendar instrumen holografik, Arka berdiri menatap bayangan pegunungan es raksasa yang menjulang angkuh di hadapan mereka.
Di sampingnya, Sarah dengan cekatan menggeser deretan koordinat pada peta topografi tiga dimensi. Pakaian taktis khusus medan es berwarna abu-abu gelap melingkari tubuhnya, melengkapi peralatan pemindai teranyar yang ia rancang sendiri.
"Pemindai satelit terenkripsi milik Mata Nusantara membenarkan keberadaan struktur masif di kedalaman tiga ribu meter di bawah lapisan es abadi Antartika," kata Sarah, suaranya terdengar serius namun mantap di antara deru mesin kapal. "Tempat itu dikenal dalam arsip rahasia sebagai Garis Pasak Keempat Stasiun Es Kuno yang dibangun oleh peradaban leluhur sebelum benua ini membeku total belasan ribu tahun lalu."
Arka memiringkan kepalanya, menatap tato Serigala Pirus di lengan kirinya. Pendar cahaya keemasan bercampur hijau pirus itu menyala redup tetapi berdenyut hangat, memberikan energi termal alami yang menjaga suhu tubuhnya tetap ideal di tengah suhu mematikan kutub selatan.
"Aegis Syndicate tidak buang waktu setelah kekalahan Valerius di Palung Mariana," ujar Arka seraya mengepalkan tangannya. "Berapa banyak kekuatan yang mereka tempatkan di sana?"
"Lebih dari satu batalyon tempur utama," jawab Sarah seraya memproyeksikan struktur pertahanan musuh di layar udara. "Komando Antartika Aegis dipimpin oleh sosok yang jauh lebih berbahaya dari Vance maupun Valerius: Jenderal Vespera, mantan kepala divisi senjata biologis dan kryo-plasma global. Mereka telah mendirikan pangkalan militer berbenteng baja di atas kubah candi es dan menancapkan Cryo-Drill Extractor langsung ke poros Pasak Keempat."
"Kalau Pasak Keempat ini hancur atau terkorupsi," Kapten Arya menimpali dari meja kemudi, "apa dampaknya bagi bumi, Sarah?"
"Pencairan es kutub secara drastis dalam jangka waktu empat puluh delapan jam," jawab Sarah tegas. "Kenaikan permukaan air laut global sejauh sepuluh meter akan menenggelamkan ribuan kota pesisir di seluruh dunia, termasuk Jakarta, Surabaya, Tokyo, hingga New York. Ini adalah skenario pemerasan iklim terbesar dalam sejarah manusia."
Arka menarik napas panjang, merapikan rompi taktis bertulang titanium dan mempererat sarung tangan khusus yang dirancang untuk menyalurkan energi Kunci Tembaga.
"Gue turun sekarang," tegas Arka. "Sarah, tahan sinyal pertahanan udara pangkalan mereka dengan virus EMP. Kapten Arya, posisikan kapal di zona aman balik tebing es."
"Arka, tunggu!" seru Sarah seraya melangkah mendekat. Ia meraih lengan kiri Arka, menatap mata pria itu dengan penuh kecemasan yang mendalam. "Suhu di kedalaman celah es itu berada di titik nol mutlak karena pengaruh reaksi korupsi Cryo-Drill. Bahkan energi Kunci Tembaga sekalipun akan mengalami penyusutan frekuensi kalau kau terisolasi di dalam inti pangkalan."
Arka tersenyum tipis, menggenggam jemari Sarah dengan penuh kehangatan. "Lengan gue mungkin bisa mendingin, Sarah... tapi tekad untuk menjaga bumi ini bakal tetap membakar apa pun yang mencoba menghancurkannya. Gue bakal balik dengan kemenangan."
Tanpa menunggu lama, Arka melangkah ke kompartemen peluncuran taktis di bagian belakang kapal.
BZZZZZZT-CLANG!
Pintu kompartemen terbuka lebar. Badai salju Antartika menyambar masuk dengan raungan mengerikan. Arka menerjang keluar, melompat bebas dari ketinggian lima puluh meter melintasi jurang es abadi!