Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #52

ANCAMAN DI ATAS PUSAT ANGIN

Kemenangan mutlak di kedalaman Benua Antartika membawa gelombang ketenangan singkat bagi kawasan kutub selatan, namun di ruang komando utama KM Samudra Nusantara II yang melaju membelah Samudra Hindia menuju perairan Nusantara, suasana kembali mencekam. Layar-layar holografik raksasa yang mengapung di tengah ruangan memancarkan warna merah menyala, memperlihatkan denyut anomali magmatik yang memuncak di sepanjang jalur vulkanik Indonesia.

Sarah duduk di depan konsol peretas utamanya, jemarinya bergerak dalam kecepatan kilat mengurai jutaan baris kode terenkripsi tingkat tinggi yang baru saja diekstrak dari memori zirah Jenderal Vespera dan pangkalan Aegis Antartika. Rambut terikat ringkasnya bergoyang seirama dengan guncangan ringan kapal, sementara matanya yang tajam meneliti setiap lonjakan grafik frekuensi.

"Arka, lihat ini," panggil Sarah dengan suara penuh kekhawatiran, menudingkan jari ke arah proyeksi tiga dimensi Pulau Bali dan Celah Lombok. "Aegis Syndicate ternyata tidak pernah berhenti di Antartika. Kegagalan Vespera dan Valerius justru mempercepat rencana inti dari pimpinan tertinggi mereka—sosok rahasia yang dikenal dengan julukan Archon Helios."

Arka melangkah mendekat, berdiri tegap di samping Sarah. Di lengan kirinya, tato Serigala Pirus Surya berdenyut lembut, memancarkan cahaya putih keemasan yang kini telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Pakaian taktis barunya yang dilapisi serat mikron titanium berkedip pelan setiap kali energi Kunci Tembaga terdistribusi ke seluruh sel tubuhnya.

"Siapa Archon Helios ini, Sarah?" tanya Arka dengan suara berat dan penuh kewaspadaan.

"Dia adalah pendiri utama Aegis Syndicate sekaligus mantan fisikawan kuantum genius yang membelot dari konsorsium sains global tiga puluh tahun lalu," jawab Sarah seraya membesarkan gambar makro dari Kawah Gunung Agung di Bali. "Helios tidak sekadar menginginkan kontrol ekonomi seperti Valerius atau manipulasi iklim seperti Vespera. Dia ingin memicu erupsi berantai seluruh gunung berapi di sepanjang Cincin Api Pasifik untuk membuka celah dimensi magmatis purba."

"Erupsi berantai?" Kapten Arya yang mengendalikan kemudi utama membelalakkan mata kaget dari konsol navigasi. "Kalau seluruh gunung api aktif di Nusantara meletus bersamaan, abu vulkanik dan aliran piroklastik akan menutupi atmosfer Asia Tenggara selama bertahun-tahun! Itu adalah kiamat ekologis!"

"Dan pusat dari seluruh ikatan magma vulkanik Nusantara berada tepat di Pasak Kelima—Kawah Utama Gunung Agung," lanjut Sarah tegas. "Menurut dokumen Aegis yang berhasil gue retas, Pasak Kelima adalah Mata Api Sundaland. Di tempat itu, sebuah pilar magma purba berumur jutaan tahun disimpan di dalam ruang bawah tanah di dasar kaldera. Helios sudah mengerahkan armada udara siluman dan benteng mengapung kelas beratnya, Aegis Dread-Fortress Hyperion, menuju ruang udara Pulau Dewata!"

Arka menatap proyeksi Gunung Agung yang anggun namun kini diselimuti oleh garis-garis anomali merah. Ia bisa merasakan getaran rintihan tanah kelahirannya menembus jarak ribuan kilometer. Pusat magma bumi sedang bergejolak, dipaksa bangun oleh induktor gelombang mikro bertekanan tinggi yang dipasang secara rahasia oleh pasukan Helios.

"Kita tidak boleh terlambat satu detik pun," tegas Arka, matanya memancarkan pendar keemasan murni. "Kapten Arya, naikkan kecepatan kapal ke moda pendorong ion kuantum! Kita potong jalur pelayaran dan terbang langsung menuju ruang udara Bali!"

"Siap, Arka! Pendorong ion diaktifkan dalam tiga... dua... satu!" teriak Kapten Arya seraya menarik tuas daya utama.

VRRRRRR-BOOOOOOM!

Lihat selengkapnya