BOOOOOOM-FLASH!
Kawah magmatis Gunung Agung mendadak bergetar hebat saat benturan dua gelombang energi raksasa meledak di tengah udara. Gelombang kejutan putih keemasan dari aura Serigala Pirus Surya milik Arka menghantam keras dinding pusaran api yang dipancarkan oleh dua puluh prajurit elit Ignis Guard. Ledakan hawa panas bertekanan ribuan atmosfer itu melempar batuan-batuan basalt raksasa di sekitar kawah, memuntahkan percikan lava cair ke segala arah bagai kembang api maut.
"Serang dari segala arah! Jangan beri dia ruang untuk bernapas!" teriakan komandan Ignis Guard memecah raungan magma yang membara.
Dua puluh prajurit zirah berat Aegis meluncur memutar di udara air kawah dengan pendorong jet vulkanik di punggung mereka. Tombak-tombak plasma membara di tangan mereka memancarkan laser jingga pekat yang sanggup menembus dinding baja tebal dalam sekejap. Tanpa jeda, sepuluh prajurit menembakkan gelombang jarum plasma berkecepatan supersonik, sementara sepuluh prajurit sisanya menerjang maju membentuk formasi kurungan melingkar!
WHSSSH-WHSSSH-WHSSSH!
Ratusan jarum plasma membara meluncur melintasi danau magma, mengincar setiap titik vital di tubuh Arka.
Arka tidak bergeming sedikit pun di atas pijakan batu basalt yang membara. Mata kirinya menyala dalam pendar keemasan murni. Dengan ketenangan jiwa seorang pelindung sejati, Arka mengangkat tangan kirinya ke atas seraya memutar pergelangan tangannya secara presisi.
VRRRRRR-ROAAR!
Aura Serigala Pirus Surya yang melilit tubuhnya menggelembung mekar, membentuk kubah perisai rotasi magnetik Surya Aegis Shield! Ratusan jarum plasma musuh membentur permukaan perisai tersebut, dibiaskan menjadi kilatan cahaya tak berbahaya yang tersedot masuk ke dalam aliran energi Kunci Tembaga.
"Kalian terlalu mengandalkan teknologi buatan untuk menaklukkan kekuatan alam," ujar Arka dengan suara dingin yang bergema melintasi gemuruh kawah. "Tapi di tanah ini... alamlah yang memegang kendali!"
SRAAAAAGH-THUMP!
Arka menerjang maju dalam kecepatan yang tak sanggup ditangkap oleh sensor helim taktis musuh! Dalam hitungan mikrodetik, Arka telah berada di tengah-tengah lima prajurit Ignis Guard. Tangan kirinya yang diliputi pendar putih keemasan menghantam langsung ke dada zirah prajurit terdepan!
BOOOOOOM-FLASH!
Pukulan gelombang kejutan Surya Pirus meremukkan zirah plasma vulkanik musuh hingga berkeping-keping! Reaksi berantai energi murni merambat cepat dari zirah pertama ke empat zirah prajurit di sekitarnya, melumpuhkan seluruh sistem pendorong jet dan menghancurkan inti daya zirah mereka secara serentak. Lima prajurit elit Aegis terlempar ratusan meter membentur dinding kaldera sebelum akhirnya jatuh pingsan tak berdaya.
"Sektor Satu hancur! Gunakan meriam termal maksimum!" teriak komandan musuh panik.
Lima belas prajurit Ignis Guard yang tersisa menyatukan ujung tombak plasma mereka, membentuk satu meriam energi raksasa yang menyedot daya panas dari sungai magma di bawah mereka. Sebuah bola api plasma raksasa berdiameter sepuluh meter tercipta, memancarkan radiasi termal hingga dua ribu derajat Celsius!
BOOOOOM-FLARE!
Tembakan bola api plasma raksasa meluncur deras membelah kawah, siap melumat habis Arka beserta pilar batu Pasak Kelima!
"Arka! Buka frekuensi chip peretas sekarang!" jerit suara Sarah melalui transmisi radio yang berderit akibat gangguan radiasi vulkanik. "Gue sudah mengunci alur frekuensi daya benteng Hyperion dari udara! Kita bisa balikkan energi tembakan mereka!"
"Diterima, Sarah!" balas Arka mantap.
Arka menekan chip peretas holografik yang ditempelkan Sarah di dada zirahnya. Seketika, garis-garis pendar pirus transparan merambat cepat dari dadanya menuju lengan kirinya, menyatukan frekuensi Kunci Tembaga dengan sistem peretas Mata Nusantara.