Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #54

ATOL SEGI TIGA NATUNA

Gelombang perak Laut Natuna Utara berkilau di bawah naungan awan mendung yang berarak rendah. Di kedalaman perairan yang berbatasan langsung dengan batas terluar landas kontinen Indonesia tersebut, membentang sebuah struktur geologi raksasa yang tersimpan rapat dalam rahasia sejarah ribuan tahun: Atol Segi Tiga Natuna. Tempat ini bukanlah sekadar terumbu karang biasa, melainkan puncak teratas dari pegunungan purba benua Sundaland yang tenggelam di akhir Zaman Es.

Di dalam kabin komando utama KM Samudra Nusantara II, suasana terasa begitu hening dan penuh konsentrasi tinggi. Kapal riset amfibi itu kini melaju dalam moda senyap (silent hydro-drive) di kedalaman seratus lima puluh meter di bawah permukaan laut. Instrumen-instrumen holografik memproyeksikan gambaran tiga dimensi dari dasar Natuna, memperlihatkan kompleks bangunan megalitikum bawah laut yang luasnya mencakup puluhan kilometer persegi.

Sarah berdiri mengawasi layar pemindai kuantum, tangannya bergerak cepat memetakan denyut energi yang terpancar dari dasar atol. Wajah cantiknya tampak serius, dibasahi sedikit keringat dingin di pelipisnya akibat konsentrasi nonstop selama perjalanan dari Bali.

"Arka, pemindai kita mengonfirmasi bahwa Pasak Keenam dan Pasak Ketujuh terletak saling bersilangan di dalam satu ruangan inti raksasa," ujar Sarah seraya memperbesar proyeksi struktur piramida kristal berundak di tengah Atol Natuna. "Ini adalah Jantung Mahakarya Sundaland—pusat saraf utama yang mengendalikan seluruh kestabilan tektonik, iklim, dan medan magnetik planet bumi."

Arka melangkah mendekati layar, menyesuaikan pelindung lengan titanium pada zirah taktis teranyarnya. Pendar putih keemasan dari tato Serigala Pirus Surya di tubuhnya berdenyut lembut, bersinergi seirama dengan ketukan denyut purba yang memancar dari dasar laut Natuna.

"Siapa yang memimpin pasukan Aegis di bawah sana, Sarah?" tanya Arka dengan suara berat dan tegas.

Sarah menggeser salah satu jendela data holografik, menampilkan profil seorang pria berzirah perak gelap dengan jubah sibernetik yang memancarkan pendar energi hitam pekat. "Dia adalah sosok tertinggi dari seluruh hierarki Aegis Syndicate: Sovereign Malakor. Pria ini tidak pernah menampakkan diri di hadapan publik. Menurut catatan rahasia BSSN, Malakor adalah keturunan langsung dari dinasti bangsawan kuno yang sengaja membekukan dirinya dalam krisis histeresis demi menunggu momentum kebangkitan Kunci Tembaga."

"Jadi dia sudah menunggu tempat ini selama berabad-abad," gumam Arka seraya mengepalkan tangannya, memicu pendar keemasan yang membakar udara di sekitarnya.

"Lebih buruk dari itu, Arka," sambung Sarah dengan nada khawatir yang mendalam. "Malakor telah membawa perangkat pemungkas Aegis: Aegis Null Core. Mesin itu dipasang tepat di antara persimpangan Pasak Keenam dan Ketujuh. Kalau Null Core berhasil menginfeksi kedua pasak tersebut secara bersamaan, Malakor bukan cuma bisa mengendalikan iklim atau bumi... tapi dia bisa membalikkan kutub magnetik bumi dan memicu kepunahan massal!"

Kapten Arya memutar kemudi utama kapal, memposisikan KM Samudra Nusantara II di atas palung luar Atol Natuna. "Pintu peluncuran submisi siap, Arka. Sistem radar siluman Aegis di permukaan sudah dilumpuhkan oleh peretas Sarah."

"Terima kasih, Kapten," kata Arka. Ia menatap Sarah dengan mata keemasannya yang penuh keyakinan. "Sarah, jaga kapal dan bantu gue memutus alur data Null Core dari konsol luar. Pertempuran di bawah sana bakal menentukan masa depan dunia kita."

Sarah mengangguk mantap, memegang jemari Arka dengan erat. "Gue bakal terus kawal kau dari ruang data, Arka. Tunjukkan pada Malakor bahwa bumi ini milik mereka yang mencintainya, bukan yang ingin menguasainya!"

VRRRRRR-CLANG!

Arka melangkah masuk ke kompartemen peluncuran taktis bawah air. Pintu kedap udara menutup rapat, dan dalam sekejap, Arka meluncur cepat membelah air jernih Laut Natuna Utara menuju celah utama Piramida Kristal Sundaland!

WHSSSH!

Lihat selengkapnya