Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #55

CAHAYA PURBA SUNDALAND (TAMAT)

BOOOOOOM-FLASH!

Benturan dua kekuatan kosmis menggetarkan pondasi dasar benua Sundaland yang telah tertidur pulas selama jutaan tahun. Di dalam ruang inti Piramida Kristal Natuna, lidah-lidah api hitam antimateri dari Tongkat Ouroboros milik Sovereign Malakor saling mengunci dengan pendar putih keemasan Serigala Pirus Surya milik Arka. Udara di dalam aula raksasa itu terdistorsi hebat, memuntahkan gelombang gravitasional yang memecahkan pilar-pilar batu marmer kuno menjadi debu berterbangan.

"Kau hanyalah serangga yang kebetulan menemukan pusaka leluhur, Arka!" raung Malakor dengan mata menyala merah pekat. "Kau tidak akan pernah bisa menahan arus keabadian yang dibawa oleh Aegis Null Core!"

Malakor menghentakkan kakinya. Enam sayap energi hitam memuncul dari balik jubah sibernetiknya, menyerap paksa sisa radiasi dari mesin Null Core. Tiba-tiba, tekanan energi antimateri meledak tiga kali lipat! Pedang Ouroboros milik Malakor menembus benteng perisai keemasan Arka, menggores dalam dada zirah taktis Arka dan melempar tubuhnya ratusan meter hingga membentur prasasti punden berundak di pilar Pasak Ketujuh!

THUUUMP-KRRRRAKH!

Arka terhempas keras, memuntahkan sedikit darah murni yang berkilat keemasan di atas lantai marmer. Suara sirine bahaya melengking tinggi dari sistem zirah taktisnya yang retak. Di depan matanya, Aegis Null Core meraung kian ganas. Rantai-rantai energi hitam telah menutupi sembilan puluh persen permukaan Pasak Keenam dan Pasak Ketujuh. Indikator persentase infeksi pada monitor holografik menunjuk angka 98%!

"Arka! Sistem magnetik bumi di Selat Makassar dan Samudra Pasifik mulai bergeser drastis!" jerit suara Sarah melalui radio, terdengar penuh kepanikan di tengah deru guruh gempa bawah laut. "Frekuensi Null Core memunci total! Kalau mencapai seratus persen dalam tiga puluh detik, pembalikan kutub magnetik tidak bisa dihentikan lagi!"

Malakor melayang mendekati Arka yang terkapar, mengacungkan ujung pedang Ouroboros tepat ke tenggorokan Arka. "Lihatlah, Arka... ini adalah detik-detik terakhir dari dunia lamamu. Berlututlah, dan biarkan darahmu melengkapi pembalikan kutub ini!"

Di tengah gemuruh kehancuran dan rasa sakit yang membakar seluruh persendiannya, Arka memejamkan mata. Namun, bukannya rasa takut yang hadir, ia merasakan getaran halus yang begitu hangat merambat dari telapak tangannya yang menyatukan pilar batu Pasak Ketujuh.

BZZZZZZT-VMMMMM!

Bukan cuma dari Natuna... Arka merasakan denyut gema dari lima stasiun Pasak Nusantara lainnya yang telah ia pulihkan: Denyut kedalaman Palung Banda... Pendar keheningan Candi Laut Jawa... Tegaknya benteng Palung Mariana... Keagungan es abadi Antartika... Dan gelombang api pelindung Gunung Agung Bali!

Seluruh lima Pasak tersebut kini bersatu dalam satu frekuensi jiwa yang sama, mengalir deras menerobos samudra dan benua, meluncur lurus menuju tubuh Arka melalui Kunci Tembaga di dadanya!

VRRRRRR-ROAAR!

"Tanah ini... air ini... tidak pernah membiarkan dirinya dihancurkan oleh keserakahan!" bisik Arka lembut, namun suaranya bergema bagai bisikan seluruh leluhur benua Sundaland yang bangkit bersamaan!

Tato Serigala Pirus Surya di dada Arka meledak dalam pancaran cahaya murni yang begitu terang hingga menerangi seluruh kegelapan Laut Natuna Utara! Pendar cahaya itu bukan lagi sekadar emas atau pirus, melainkan warna Surya Nusantara Mahakarya cahaya pelangi keemasan transendental yang memancarkan kehangatan kehidupan abadi!

BOOOOOOM-FLASH!

Serangan pedang antimateri Malakor yang mengincar leher Arka membentur pendar aura baru Arka dan hancur berkeping-keping menjadi debu perak!

"Apa... APA-APAAN KEKUATAN INI?!" jerit Malakor penuh ketakutan seraya terhempas mundur belasan meter. Sensor zirahnya meledak akibat tak sanggup mengukur magnitudo energi yang terpancar dari tubuh Arka!

Arka bangkit berdiri dengan anggun. Zirah taktisnya yang retak bertransformasi penuh, terbalut oleh jubah pendar cahaya pirus keemasan yang membentuk sosok Serigala Purba Raksasa bersayap tujuh pilar cahaya di belakang tubuhnya.

Lihat selengkapnya