Sidang Meja Bundar

Puspa Febrina
Chapter #3

Kunjungan Nenek dan Atuk

Setelah pertemuan pertamaku dengan momo dan seiring berjalannya waktu, baba sepertinya mulai terbiasa dengan kehadiran kucing di rumah ini. Baba mulai berani untuk memegang momo, bermain bersama momo, dan bahkan sampai menggendong momo. Kata baba ternyata punya kucing itu bisa menghilangkan stres dan bikin nyaman. Awalnya sih baba cuma kasih izin momo untuk tinggal beberapa bulan saja, intinya sampai badannya kuat dan lebih berisi, tapi malah baba sendiri yang akhirnya melarang momo untuk dibawa saudaranya yang semula ingin mengadopsi momo.

Sekarang pun aku paham kenapa baba itu bisa geli dan gak suka kucing, rupa- rupanya ini itu turunan dari keluarganya, atuk dan nenek (orang tua baba ) adalah salah satu penyebabnya, mereka itu jijik sama kucing karena menurut mereka kucing itu hewan yang suka buang kotoran sembarangan dan hewan yang suka mencuri, padahal itu kan beberapa kucing saja, gak semuanya begitu. Karena setiap ada kucing yang kerumah atuk dan nenek pasti berakhir di usir, makanya baba jadi gak terlalu sering berinteraksi dengan kucing, selain itu atuk dan nenek juga bilang kalau bulu kucing itu menggelikan kaya ulat bulu. Intinya sih mereka selalu menciptakan sugesti yang menjijikan tentang kucing ke anak-anak mereka sehingga yang ada dipikiran mereka tentang kucing ya seperti itu.

Oleh karena itu juga bubu gak mau hal yang sama terjadi ke anak-anaknya, bubu gak pernah mengsugeti kan hal-hal di sekeliling kami dengan hal buruk, apalagi sampai menakut-nakuti, bubu lebih banyak menjelaskannya dengan detail ataupun sederhana, agar segala hal itu bisa jelas dan gak ambigu, jadi bukan hanya ketidak sukaan semata saja. Sikap bubu ini didasari dari didikan di masa kecilnya, saat itu pun bubu tidak pernah dilarang untuk melakukan apapun, mau bermain bola silahkan, mau berenang ke laut juga silahkan, mau mendaki gunung pun silahkan, dan bahkan dari bubu SMA pun bubu sudah merantau jauh ke Jakarta. Makanya bubu itu jauh lebih pemberani dibandingkan baba.

Hal ini Bubu lakukan karena bubu ingin kami anak-anaknya bisa percaya diri, tidak takut mencoba, tidak perlu takut gagal, tidak perlu takut jijik, tidak perlu takut terjatuh, dan tidak perlu takut dengan penilaian orang lain. Saat kita percaya pada kemampuan diri sendiri, maka keberhasilan jauh lebih nyata digenggaman kita, itulah kata-kata bubu untuk memberikan keyakinan kepada kami anak-anaknya saat diliputi rasa takut. Bubu itu wanita paling berani yang pernah aku temui di dunia ini, bukan seperti wanita kebanyakan, yang sukanya menggunjing di belakang, tapi di depan orang itu ia pura-pura baik.

/////

Dan hari ini dua orang yang sangat tidak suka dengan momo itu rupanya datang berkunjung ke rumah kami, entahlah maunya apa, kalau nenek dan atuk ada di rumah tuh rasanya tidak menyenangkan, semua hal diatur-atur oleh mereka, tak boleh ada yang jelek dimata mereka, dan bagi mereka apa yang diterapkan di rumah ini oleh orang tuaku itu hal yang salah dan tak benar. Semua hal dikomentari meskipun hal itu sudah benar dan sesuai. Apalagi soal makanan, nenek ku ini merasa sok pintar, padahal rasa masakannya tak cocok di lidah kami, nenek selalu merasa masakan bubu itu tak enak, kurang bumbu, dan menurut nya tidak cocok di lidah baba.

Padahal baba saja jarang makan masakan nenek, mau itu saat dibuat di rumah kami, atau ketika kami berkunjung ke rumah mereka. Lagi pula kalau emang baba gak cocok sama masakan bubu, lantas kenapa baba lebih suka masakan bubu dibanding masakan nenek, kan setiap keluarga itu beda-beda, gak sama, dan punya ciri khas serta selera masing-masing. Pokoknya kalau bagi atuk dan nenek ada satu hal yang gak sesuai dengan kemauannya mereka maka dapat dipastikan hal itu adalah hal yang buruk, padahal kenyataannya belum tentu begitu. Emang nyebelin banget mereka berdua ini.

Seperti sekarang ini, bubu yang awalnya ingin memasak untuk makan siang kami, lantas langsung dilarang untuk memasak, karena katanya nenek mau nunjukin hal yang benar dan seharusnya dicontoh bubu dalam memasak. Dasar nyebelin, banyak mengaturnya, dan sok tau lagi. "Sudah lah Humaira, biar mamah saja yang masak, kamu pergi saja ke depan, urus hal lain, sekalian mamah mau tunjukin juga ke kamu gimana bikin makanan enak, kasihan anakku kebanyakan makan makanan gak enak terus setelah tinggal dengan kamu" ucap nenekku dengan intonasi menyindir.

Bubu hanya tersenyum, malah katanya senang, jadi gak perlu repot-repot memasak, waktu istirahatnya juga jadi lebih panjang, apalagi kalau ada nenek dirumah, nguras energi banget. Kalau menurutku dan keluarga kami masakan nenekku itu cenderung masakan yang medok bumbu, saking medoknya malah terasa tidak enak, bumbu penyedapnya saja tidak terasa, cuma terasa pedas dan getir saja. Sedangkan bubu memasak dengan bumbu yang tidak terlalu banyak, cenderung irit bumbu, bukan karena pelit, tapi kalau kebanyakan takut tidak enak dan cuma kerasa bumbu dapur saja.

/////

Setelah memasak hidangan untuk makan siang kami, nenek pun menuangkan semua hidangan itu ke wadah-wadah untuk lauk, lalu setelahnya wadah-wadah itu di tata ke meja makan. Ada satu hal lain yang menjengkelkan juga dari mereka, yakni soal si bundar, nenek dan atuk bilang kalau mereka tidak suka dengan bundar, karena kata atuk dan nenek jika makan di meja begini gak gagah. Kan kita beli bukan karena gaya atau gengsi tapi karena fungsi, emang anehkan pikirannya, kenapa harus terlihat gagah kan cuma mau makan, malahan lebih nyaman dan hangat makan di atas meja bundar seperti ini.

Satu persatu dari kami dipanggil nenek untuk segera makan siang, aku dan adikku sudah lebih dulu datang karena kami awal nya sedang main di rumah tamu dan nenek menyuruh kami untuk makan dulu baru bermain lagi. "Wah masak apa ini Ida" ucap atuk yang baru saja datang. Atuk baru datang setelah kami semua sudah datang, karena atuk ke kamar mandi dulu. "Masak ikan gulai, sayur daun ubi tumbuk santan, dan sambal udang" jelas nenek pada atuk. Di meja makan terlihat begitu banyak makanan yang terhidang, sebetulnya terlihat menggoda, tapi kalau soal rasanya aku tidak tahu bagaimana.

"Ayo Yazid, Humaira, Arthur, Bhina, dan Cammy. Makanan sudah terhidang di depan kalian, habiskan semuanya, enak ini. Sekali-kali kalian makan enak, kan kalau bubu yang masak anyep, jadi sekarang nenek yang masak pasti enak" ujar atuk asal. Begitulah mulutnya atuk, tak jauh beda dari nenek.

Satu persatu dari kami mulai menyendok makanan yang ada di atas meja, mulai dari nasi, sambal udang, sayur daun ubi tumbuk santan, dan tak lupa ikan gulai. Kalau soal rasa ya begitulah, tak ada bedanya dengan masakan nenek sebelum-sebelumnya, tapi sebetulnya yang bikin aku tak suka dengan mereka selain makan, dan sikap sok taunya mereka, aku juga tak suka dengan sikap protes nenek dan atuk. Salah satu nya saat makan, bubu memang tidak pernah menuangkan nasi ke piring baba, tapi dari hal itu saja nenek dan atuk bisa protes dan marah, padahal baba sendiri yang menolak diambil kan, terus pake segala bilang baba makannya sedikit karena tidak diambil kan bubu, padahal sih baba emang tidak selera makan saja, cuma baba gak mau banyak komen.

Lihat selengkapnya