Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #1

Presisi diatas Kayu Tua

Malam di desa itu turun dengan berat, serupa keheningan yang dipaksakan.

Angin bergesek rendah di antara tajuk pohon tua yang memagari gereja batu di ujung jalan. Hanya ada dua lampu jalan yang masih berfungsi; satu di antaranya berkedip tidak stabil, seperti mata yang kelelahan menatap kekosongan. Di tempat sedalam ini, waktu seolah kehilangan urgensinya, dunia modern seakan alpa mencatat koordinatnya dalam peta.

Gereja itu telah tegak selama lebih dari satu abad. Pori-pori batunya menghitam, menyimpan rekaman hujan dan pergantian musim yang panjang. Jika siang hari ia tampak renta dan bersahaja, maka malam mengubahnya menjadi relik masa lalu yang menolak untuk benar-benar mati di bawah siraman cahaya natrium yang remang.

Di dalam keheningan itu, hanya ada satu nyawa.

Markus.

Dia bukan pria dengan jubah liturgi atau gelar teologi. Dia hanyalah seorang koster, penjaga yang memastikan gerendel pintu terkunci rapat, sumbu lilin telah padam, dan tak ada remaja iseng yang menyelinap demi konten horor murahan.

Di usianya yang mendekati enam puluh, rambut Markus menipis dan gerakannya melambat, mencerminkan ritme hidup yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Ia menyusuri lorong tengah, menggenggam sapu kayu dengan mantap.

Derit bangku tua menyahut saat angin malam menyelinap melalui celah kaca patri. Udara di sana pekat dengan aroma khas: campuran antara sisa pembakaran lilin dan kayu lapuk yang hanya dimiliki oleh bangunan-bangunan sakral yang menua.

Markus berhenti.

Pandangannya tertuju lurus ke depan.

Ke arah altar.

Dan ke arah salib besar yang mendominasi ruang di atasnya.

Patung Kristus itu dikerjakan dengan teknik yang sederhana, tanpa polesan material mahal. Catnya mengelupas di beberapa sudut, namun entah karena kemahiran sang pemahat atau permainan bayangan dari sisa cahaya, wajah itu selalu tampak memiliki kedalaman emosi yang hidup.

Markus telah menatapnya ribuan kali selama bertahun-tahun.

Malam ini seharusnya tidak ada yang berbeda. Begitu pikirnya.

Ia kembali pada pekerjaannya. Suara sapu yang menggesek lantai batu terdengar ritmis: srek... srek...

Angin berembus lagi, membuat api kecil pada lilin di sisi altar berdansa liar. Markus mendongak tepat saat sebuah suara kecil memecah kesunyian.

Tuk.

Ia mengernyitkan dahi. Suaranya halus, seperti tetesan air. Mungkin hanya lelehan lilin yang jatuh ke cawan, pikirnya logis. Ia melanjutkan sapuannya.

Namun, suara itu kembali hadir, kali ini dengan resonansi yang lebih tegas di telinganya.

Tuk.

Markus meletakkan sapunya. Sumber suara itu berasal dari arah altar. Ia melangkah perlahan, setiap jejak sepatunya bergema di langit-langit gereja yang tinggi.

Begitu sampai di hadapan altar, langkahnya terkunci.

Di atas lantai batu yang dingin, setetes cairan merah kontras terlihat jelas. Markus berlutut, menatap noktah kecil itu dengan mata tuanya yang menyipit. Dengan ujung jari yang ragu, ia menyentuhnya.

Teksturnya lengket.

Ia mengangkat jarinya ke dekat mata. Merah pekat.

Markus terdiam, menatap jarinya seolah sedang berusaha membedah memori dari mimpi yang sulit diingat. Ia kemudian mendongak perlahan ke arah salib kayu di atasnya.

Di sana, ia melihatnya.

Lihat selengkapnya