Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #3

Gadis Bernama Mara

Siang di desa itu merayap dengan ritme yang lamban dan melelahkan.

Tidak ada polusi suara berupa klakson panjang atau pantulan silau dari gedung-gedung kaca seperti di metropolis. Hanya ada jalanan sempit yang berdebu, deretan toko kelontong kecil, dan gereja batu yang kini menjadi episentrum bagi kerumunan manusia dengan spektrum emosi yang campur aduk: sebuah perpaduan antara rasa penasaran yang ganjil, ketakutan yang laten, dan harapan yang nyaris putus asa.

Elias kembali ke lokasi itu menjelang tengah hari.

Ia sengaja mengatur waktu kedatangannya saat gelombang pertama mulai surut. Para jurnalis televisi biasanya hanya memburu klimaks sensasional di pagi hari, mengabadikan visual orang-orang bersujud, wajah-wajah yang basah oleh air mata, serta narasi dramatis yang mudah dikemas menjadi konsumsi publik.

Namun, Elias tidak pernah tertarik pada puncak emosi yang eksplosif.

Fokusnya selalu tertuju pada residunya. Pada sisa-sisa emosi yang tertinggal saat kamera telah padam, karena di sanalah manusia cenderung melepaskan topengnya dan menjadi jujur.

Ia mendorong pintu kayu gereja yang berat dan melangkah masuk.

Cahaya siang menembus kaca patri dengan lebih benderang dibanding fajar tadi, membiaskan spektrum warna yang jatuh di lantai batu menyerupai lukisan abstrak yang bergerak secara statis.

Kerumunan telah menyusut drastis. Hanya tersisa sekitar dua puluh orang di dalam ruangan yang luas itu. Sebagian masih terpaku dalam posisi berlutut, sebagian duduk dalam keheningan yang berat, sementara sisanya hanya menatap kosong ke arah altar.

Salib kayu itu masih tegak di sana. Dari jaraknya berdiri, Elias tidak bisa memastikan apakah rembesan merah itu masih aktif, namun wadah kaca di bawahnya kini telah menampung beberapa noktah kering yang tampak seperti noda purba.

Ia menyusuri lorong tengah dengan tatapan yang berfungsi layaknya pemindai. Ia mencari pola, mencari anomali, atau mencari seseorang yang mungkin menunjukkan gestur terlalu teatrikal demi menarik perhatian. Namun, pemandangan di hadapannya justru memberikan kesan sebaliknya.

Orang-orang ini tidak tampak seperti sedang berakting. Mereka terlihat seperti individu yang datang membawa beban hidup masing-masing, berharap agar ruangan sunyi ini mampu menopang beban tersebut untuk sementara waktu.

Elias merasakan sebersit rasa iba yang dingin. Baginya, pemandangan itu terasa menyedihkan.

Ia terus melangkah mendekati altar. Di sisi sakristi, ia melihat Pastor Gabriel tengah berbicara dengan seorang wanita tua. Begitu menyadari kehadiran Elias, sang imam memberikan anggukan kecil yang sopan.

"Anda kembali lagi, Tuan Elias."

"Masih banyak variabel yang perlu saya observasi, Pastor."

"Selalu ada hal baru bagi mata seorang jurnalis," sahut Pastor Gabriel dengan nada datar.

Elias menyunggingkan senyum tipis yang skeptis. "Apakah struktur patung itu sudah diperiksa dari sisi belakang?"

"Belum."

"Boleh saya mendapatkan akses ke sana?"

Pastor Gabriel mengangkat bahu secara halus, sebuah gestur penolakan yang sopan. "Strukturnya terlalu tinggi dan kami tidak memiliki peralatan tangga yang memadai untuk menjamin keamanan di dalam sini. Pihak Keuskupan sedang mempertimbangkan untuk menurunkan tim teknis yang berwenang."

Lagi-lagi jawaban diplomatis. Elias mencatatnya dalam memori sebagai hambatan yang harus ia atasi sendiri nantinya.

Saat ia berbalik untuk kembali ke deretan bangku, matanya menangkap sosok itu lagi.

Wanita itu. Mara.

Dia duduk di barisan tengah, mengambil posisi yang menjauhi pusat perhatian dan jangkauan kamera. Kedua tangannya terlipat pasif di pangkuan, punggungnya tegak, dan tatapannya terkunci pada salib di depan. Persis seperti apa yang ia lakukan pagi tadi.

Elias berhenti. Naluri profesionalnya selalu tertarik pada anomali; seseorang yang tidak bergerak sesuai arus massa biasanya menyimpan fragmen cerita yang paling krusial.

Lihat selengkapnya