Hujan malam itu turun menyerupai tirai besi yang mengisolasi dunia.
Bukan jenis hujan yang ramah atau gerimis melankolis yang kerap menghiasi layar perak. Ini adalah hujan yang menghantam permukaan aspal dengan kemarahan yang monoton, mengubah lampu-lampu jalan menjadi garis-garis cahaya yang bergetar dan terdistorsi di atas permukaan hitam yang licin.
Di area parkir sebuah kantor di pinggiran kota, Donald berdiri mematung di samping mobilnya. Ia menatap ke langit sejenak, merasakan dingin yang mulai meresap.
"Bagus sekali," gumamnya pelan, sebuah sarkasme terhadap cuaca yang memburuk.
Hari itu terasa sangat panjang. Rapat yang dijadwalkan berakhir sebelum senja justru terseret hingga hampir pukul sembilan malam. Secara fisik ia terkuras, namun mentalnya sudah melesat pulang.
Menuju Mara.
Ia masuk ke dalam kabin mobil dan menghidupkan mesin. Bilah wiper segera bekerja, menyapu air dari kaca depan dengan ritme yang cepat dan mekanis.
Srak. Srak. Srak.
Donald merogoh ponselnya, menekan satu nama yang paling sering ia hubungi. Panggilan itu tersambung, berdering dua kali sebelum sebuah suara perempuan menjawab dengan nada yang familiar.
"Terlalu lama," ucap suara di seberang, ada sisa tawa kecil dalam intonasinya.
Donald tersenyum tipis. "Maaf. Rapatnya tidak kunjung usai."
"Selalu saja rapat."
"Tidak juga. Kadang-kadang makan siang yang terlalu lama."
Mara menghela napas halus. "Kamu sudah di jalan?"
"Hampir."
Donald menggeser tuas transmisi dengan gerakan halus. Lampu depan mobilnya menyala, membelah kegelapan dan hujan seperti sepasang mata putih yang menembus kepekatan malam.
"Aku akan sampai dalam dua puluh menit," lanjutnya.
"Baik."
Hening merayap sejenak. Jenis keheningan yang hanya dimiliki oleh dua orang yang telah melampaui fase di mana kata-kata adalah sebuah keharusan.
Donald memecah kesunyian itu. "Aku bawa makanan."
Mara tersenyum di ujung telepon. "Itu sebuah ancaman atau hadiah?"
"Hadiah. Mungkin."
"Bagaimana kalau makanannya dingin?"
"Masih tetap hadiah."