Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #5

Teori Pemalsuan

Kota selalu memiliki cara untuk terasa lebih dingin daripada desa.

Bukan sekadar urusan penurunan suhu udara, melainkan cara cahaya artifisial memantul dari fasad gedung kaca dan deretan layar monitor, menghapus bayangan-bayangan organik yang biasanya membuat dunia terasa lebih manusiawi.

Ketika Elias kembali ke pusat redaksi, malam telah mencapai puncaknya. Lampu-lampu neon memancarkan cahaya putih pucat yang steril di sepanjang ruangan terbuka yang dipenuhi meja kerja. Tidak ada sisa aroma lilin di sini. Tidak ada keheningan yang sarat doa. Hanya ada aroma pekat kopi pahit yang mulai mendingin dan ketukan suara keyboard yang tidak pernah benar-benar mati.

Ia meletakkan tasnya dengan gerakan efisien di kursi, membuka laptop, dan duduk dengan gestur seorang profesional yang kembali ke teritorialnya.

Investigasi.

Dialektika.

Dekomposisi mitos.

Di gereja desa itu, segalanya terasa terlalu lunak, terlalu dipenuhi muatan emosional yang meluap. Orang-orang bersujud, terisak, dan menatap bongkahan kayu tua seolah-olah mereka sedang menunggu intervensi langsung dari langit.

Namun di sini, dunia kembali pada poros rasionalitasnya. Terstruktur. Dapat dianalisis secara empiris.

Rendra sudah menantinya di meja editorial, tampak terjaga oleh kafein. "Bagaimana kabar desa mukjizat kita?" tanyanya sambil menyesap kopinya.

Elias menghidupkan perangkatnya. "Sesak oleh massa."

"Darah itu... masih merembes?"

"Secara sporadis."

"Dan mereka semua percaya begitu saja?"

Elias hanya mengangkat bahunya secara apatis. "Manusia memiliki kebutuhan intrinsik untuk percaya pada sesuatu, Ren."

Rendra menyunggingkan senyum tipis yang penuh maksud. "Bagus. Kita membutuhkan narasi yang sanggup memotong euforia itu sebelum menjadi histeria massal." Ia menarik kursi, duduk tepat di hadapan Elias dengan tatapan menuntut. "Sudut pandang?"

Elias telah merumuskannya sepanjang perjalanan lintas kota. Ia tidak ingin sekadar membahas patung yang berdarah; itu target yang terlalu dangkal. Jika ia ingin meruntuhkan fenomena ini, ia harus menyerang fondasi intelektualnya.

"Sejarah," ucap Elias pendek.

Rendra memiringkan kepalanya, tertarik. "Sejarah dalam konteks apa?"

"Sejarah tentang bagaimana sebuah kanon dibentuk. Bagaimana teks-teks suci mengalami proses kurasi manusia."

Senyum Rendra melebar. Ia mengenali arah serangan ini. "Sangat provokatif. Lanjutkan."

Lihat selengkapnya