Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #6

Manuskrip dan debu

Perpustakaan universitas memiliki jenis kesunyian yang berbeda secara fundamental dari gereja.

Di gereja, keheningan sering kali terasa seperti sebuah doa yang tertahan, sarat akan beban emosional yang belum tuntas. Namun di perpustakaan, keheningan adalah bentuk disiplin intelektual yang kaku. Tidak ada bisikan eskapisme, tidak ada nyala lilin yang mendramatisasi suasana. Yang ada hanyalah barisan rak tinggi, lampu baca yang menyorot dingin, dan jutaan halaman yang menunggu seseorang dengan kesabaran cukup untuk membedah maknanya.

Elias selalu merasa nyaman di tempat seperti ini.

Ia tiba sesaat setelah gerbang dibuka, mendahului gelombang mahasiswa yang biasanya datang dengan terburu-buru demi mengejar tenggat referensi. Ranselnya berisi perangkat kerja standar: laptop, buku catatan, dan daftar panjang bibliografi yang ia susun hingga larut malam.

Di meja resepsionis, seorang pustakawan tua menatap daftar itu melalui kacamatanya yang melorot, lalu mengangkat alis. "Topik yang cukup ambisius," komentarnya pendek.

"Kritik tekstual," jawab Elias, singkat dan efisien.

Pustakawan itu mengangguk pelan, sebuah gestur yang biasa ia berikan kepada orang-orang muda yang datang dengan ambisi besar namun sering kali pulang dengan kepala yang penuh dengan kerumitan baru.

Beberapa menit kemudian, Elias telah menempati meja kayu panjang di dekat jendela. Di hadapannya, tiga buku tebal dengan sampul keras telah terbuka. Kertas-kertasnya berwarna krem pucat, dengan tepian yang mulai rapuh dan mengeluarkan aroma khas debu kertas yang menua.

Ia mulai membedah isinya.

Dalam setiap investigasi, Elias memegang satu prinsip yang tak tergoyahkan: jika sebuah institusi hegemonik mengklaim sebuah kebenaran sebagai sesuatu yang absolut, maka sejarah biasanya menyembunyikan narasi yang jauh lebih berantakan.

Agama, dalam pandangan Elias, adalah laboratorium utama bagi prinsip ini. Kitab suci yang dipuja sebagai teks sempurna oleh jutaan orang pastilah merupakan hasil dari proses mekanis manusia yang sangat panjang. Penyalinan manual, penyuntingan redaksional, hingga filter interpretasi.

Itulah hipotesis yang ingin ia validasi hari ini. Ia datang untuk memperkuat amunisi bagi artikelnya.

Ia membuka literatur pertama: sebuah pengantar komprehensif mengenai kritik tekstual Perjanjian Lama. Halaman demi halaman memaparkan bagaimana teks kuno ditransmisikan lintas generasi. Seorang penyalin menyalin naskah; generasi berikutnya menyalin salinan tersebut. Secara statistik, kesalahan adalah niscaya.

Huruf yang tertukar, kata yang terulang secara tidak sengaja, atau baris kalimat yang bergeser karena kelelahan mata sang penyalin. Elias mencatat dengan ritme cepat.

Lihat selengkapnya