Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #7

Konsistensi

Lampu meja Elias berpijar kesepian, membentuk pulau cahaya kecil di tengah samudera kegelapan apartemennya.

Di balik jendela kaca, kota masih terjebak dalam ritme nokturnalnya: deru kendaraan yang teredam dari kejauhan dan kerlip lampu gedung yang menyerupai konstelasi buatan manusia. Namun di atas meja kerjanya, atmosfer terasa jauh lebih statis dan sunyi.

Laptop masih terbuka lebar. Empat tab penelitian digital, tiga dokumen PDF akademik yang sarat catatan kaki, dua tabel perbandingan teks Yunani kuno, dan seorang pria yang mulai merasa jengkel pada keteguhan prinsipnya sendiri.

Elias menatap layar tanpa berkedip. Di hadapannya tersaji sesuatu yang sama sekali tidak dramatis: baris demi baris teks kuno yang nyaris identik, dipisahkan oleh kolom-kolom kecil yang menandai anomali. Ia menggeser kursor dengan gerakan mekanis. Membaca. Membandingkan. Menganalisis.

Di kolom pertama, sebuah fragmen kalimat dalam bahasa Yunani Koine. Di kolom kedua, salinan dari manuskrip yang berbeda secara geografis dan zaman. Perbedaannya hanya terletak pada satu kata tunggal. Bukan jenis kata yang mampu mengubah lanskap makna secara masif. Hanya variasi stilistika, seperti perbedaan antara "bangunan itu megah" dan "itu adalah bangunan yang megah."

Substansinya tetap tidak bergeming.

Elias mengembuskan napas panjang. Ia telah menghabiskan hampir empat jam melakukan ritual yang sama. Memeriksa ulang validitas dari apa yang awalnya ia anggap sebagai sebuah rekayasa besar. Ia meraih cangkir kopinya yang sudah mendingin, menyesap cairan pahit itu tanpa sisa, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi denting yang tajam.

"Baik," gumamnya pada kesunyian ruangan. "Kita bedah sekali lagi."

Ia membuka dokumen lain; sebuah risalah akademik mengenai statistik manuskrip Perjanjian Baru yang berhasil ditemukan hingga dekade ini. Ia membaca angka-angka itu dengan saksama. Keningnya terangkat.

Jumlahnya tidak sekadar besar. Untuk ukuran teks dari era antik, volume manuskrip yang tersedia sangatlah masif, jauh melampaui karya-karya klasik lainnya yang selama ini diterima sebagai fakta sejarah tanpa perdebatan yang berarti.

Elias membuka catatan baru, mengetik dengan ritme yang melambat.

Lihat selengkapnya