Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #8

Pertanyaan Tua

Gereja itu kini tenggelam dalam keheningan yang lebih pekat daripada saat Elias pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui deretan kaca patri yang menjulang, membiaskan spektrum warna yang lembut di atas lantai batu kusam. Merah darah, biru safir, dan kuning amber; warna-warna itu jatuh menyerupai fragmen lukisan yang terlepas dari bingkainya.

Bangku-bangku kayu jati yang menghitam dimakan usia tampak melompong. Tidak ada ritus misa, tidak ada kidung pujian yang menggema. Hanya ada aroma kayu tua yang lembap dan sisa-sisa wangi lilin yang telah padam, menciptakan atmosfer yang statis sekaligus intim.

Elias menyusuri lorong tengah dengan langkah yang sengaja ia perlambat. Setiap tapak sepatunya memicu gema pendek yang segera diredam oleh dinding-dinding batu tebal. Secara teknis, ia tidak punya alasan untuk kembali; bahan wawancaranya sudah melampaui kuota, dan artikel itu seharusnya sudah bisa ia rampungkan di meja redaksi.

Namun, ada sebuah gangguan yang menetap di benaknya. Bukan tentang data, melainkan intuisi seorang pemburu bahwa ada satu lapisan pertanyaan yang sengaja atau tidak, belum sempat ia luncurkan.

Di sisi kiri altar, ia melihat pria tua itu. Mengenakan jubah sederhana dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, sang imam duduk dengan buku kecil yang sampulnya telah aus. Ia membaca dengan ketenangan seorang pria yang telah berdamai dengan arus waktu.

Elias mendekat. Derit papan kayu di bawah kakinya membuat sang imam mengangkat wajah. Matanya tidak menunjukkan keterkejutan, hanya sebuah pengakuan yang tulus dan tenang.

"Ah," ucapnya dengan suara serak yang lembut. "Sang jurnalis kembali lagi."

Elias mengambil tempat di bangku tepat di hadapan pria itu. Ia tidak segera mengeluarkan laptopnya; kali ini atmosfernya terasa berbeda dari sekadar interogasi profesional. "Maaf jika saya mengganggu ketenangan Anda, Pastor."

Pastor itu menutup bukunya, membiarkan jarinya tetap di sana sebagai pembatas. "Pertanyaan yang berbobot jarang sekali tuntas dalam satu putaran percakapan," sahutnya, seolah memberikan izin tak tertulis.

Elias merasakan tantangan intelektual yang halus di balik kalimat itu. Ia mencondongkan tubuhnya, memulai serangan tanpa basa-basi. "Saya menghabiskan waktu dengan literatur manuskrip. Tentang divergensi teks, variasi kata, dan kalimat yang bergeser dari satu salinan ke salinan lain." Ia menatap imam itu dengan tatapan tajam seorang jaksa. "Bukankah labilitas teks ini adalah bukti bahwa fondasi kitab ini tidaklah stabil?"

Imam tua itu tidak tersentak. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku yang keras, menatap langit-langit sejenak seolah sedang memilah kosakata di antara bayang-bayang arsitektur gotik tersebut. "Justru sebaliknya," jawabnya pelan sambil tersenyum tipis.

Elias mengernyitkan dahi. "Sebaliknya?"

Lihat selengkapnya