Apartemen Elias selalu terjebak dalam kesunyian yang mencekam setiap kali malam mencapai puncaknya.
Bukan jenis kesunyian yang menawarkan kedamaian, melainkan sebuah jeda panjang yang tidak nyaman di antara dua kalimat yang menggantung tanpa penyelesaian. Lampu dapur berpijar redup, membiaskan cahaya kuning yang sakit ke permukaan lantai. Kulkas di sudut ruangan berdengung monoton, menyerupai mesin tua yang terus bekerja dalam pengabaian. Di balik kaca jendela, deru lalu lintas kota terdengar seperti deburan ombak yang jauh, mengingatkan bahwa dunia luar tidak pernah benar-benar terlelap.
Elias meletakkan tasnya di atas kursi dengan gerakan kaku.
Ia melepas jaketnya dan menggantungnya begitu saja tanpa menoleh. Hari ini terasa jauh lebih melelahkan daripada yang seharusnya, meski tidak ada peristiwa eksplosif yang terjadi. Hanya ada sisa-sisa percakapan di gereja itu. Hanya ada bayangan seorang imam tua dengan sorot mata tenang yang seolah mampu menembus lapisan pertahanan logikanya.
Tuhan bekerja melalui manusia.
Elias menggelengkan kepalanya pelan, sebuah upaya fisik untuk mengusir kutipan itu dari benaknya. Ia tidak datang ke desa itu untuk mendapatkan pencerahan teologis. Ia datang untuk memburu fakta mentah. Namun fakta, sebagaimana yang ia pahami sekarang, memiliki kebiasaan buruk: mereka sering kali membuka paksa pintu menuju lorong-lorong memori yang selama ini ia kunci rapat.
Dengan helaan napas berat, ia membuka laci meja di ruang tamu. Niat awalnya hanyalah mencari sebuah pulpen, namun laci itu adalah gudang bagi masa lalunya yang berantakan, tumpukan kuitansi kusam, kartu nama yang tak lagi relevan, dan jalinan kabel dari perangkat yang sudah lama rusak.
Ia mengaduk isi laci itu dengan gerakan apatis hingga jemarinya menyentuh permukaan yang keras dan dingin.
Sebuah kotak kayu kecil.
Kayu gelap itu sudah tergores di beberapa sudutnya, menunjukkan jejak waktu yang panjang. Elias terpaku. Ia mengenali kotak itu dengan sangat baik, meski sudah bertahun-tahun ia membiarkannya terkubur di bawah tumpukan benda tak berguna. Ia menatapnya selama beberapa detik tanpa berani membuka tutupnya, seolah sedang berhadapan dengan sebuah rahasia yang sanggup merusak seluruh suasana hatinya malam ini.
Akhirnya, dengan gerakan pelan, ia membukanya.
Di dalamnya tersimpan lembaran-lembaran foto yang mulai menguning di tepiannya. Elias mengambil satu yang berada di posisi paling atas. Foto itu mengabadikan tiga sosok yang berdiri di depan sebuah rumah kecil dengan halaman rumput yang dibiarkan liar.
Seorang pria berdiri di tengah dengan postur tegap dan kemeja putih yang disetrika kaku. Tangannya menggenggam sebuah buku hitam, sebuah simbol otoritas yang tak terbantahkan. Di sampingnya, seorang perempuan tersenyum dengan sorot mata yang terlalu lembut untuk dunia yang sering kali tidak mengenal belas kasih. Dan di depan mereka, berdiri seorang anak laki-laki berambut berantakan dengan mata yang belum belajar cara menyembunyikan rasa ingin tahu.
Elias menatap anak itu. Anak itu adalah dirinya sendiri, sebelum skeptisisme menjadi perisainya.
Ia meletakkan foto itu di meja dan mengambil lembaran lainnya. Di sana, ayahnya tampak berdiri di atas mimbar gereja lokal yang sederhana. Alkitab terbuka lebar di tangannya, mulutnya terkunci dalam pose khotbah yang berapi-api. Orang-orang di bangku kayu menundukkan kepala, terserap dalam karisma pria yang tampaknya tidak pernah mengenal kata ragu.