Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #10

Artikel Pertama

Pagi itu diinterupsi oleh irama ketukan keyboard yang tidak sabar.

Elias sudah terpaku di depan meja kerjanya sejak subuh, saat cakrawala masih menyisakan rona kelabu dan denyut kota belum sepenuhnya pulih. Lampu meja memancarkan cahaya putih yang steril, memantulkan bayangan jemarinya yang menari dengan kecepatan mekanis di atas papan ketik.

Draf artikel itu terbuka lebar di layar, menuntut penyelesaian. Judulnya telah ia kurasi sedemikian rupa, sebuah komposisi kata yang terlalu tajam untuk diabaikan dan terlalu provokatif untuk tidak memicu rasa penasaran.

"Mukjizat atau Manipulasi? Sejarah Panjang Revisi Iman."

Elias menelaah ulang paragraf pembukanya. Ia tidak menggunakan nada tinggi atau cemoohan murahan; ia melakukan sesuatu yang jauh lebih destruktif: ia terdengar sangat rasional. Kalimat-kalimatnya terukur, dingin, dan disusun menyerupai barisan argumen di sebuah ruang sidang yang kaku.

Ia memaparkan sejarah kanonisasi. Ia membedah bagaimana teks-teks disaring, dipilih, dan akhirnya dikukuhkan sebagai otoritas tunggal. Ia menekankan bahwa proses tersebut tidak lahir dari ruang hampa ilahi, melainkan dalam kancah politik, dinamika kekuasaan, dan keterbatasan manusiawi yang sarat kepentingan.

Elias sempat menjeda ketukannya. Matanya beralih ke tumpukan catatan di samping laptop, hasil risetnya di perpustakaan tentang stabilitas manuskrip yang sempat mengusiknya. Ia menatapnya selama beberapa detik, lalu memalingkan wajah dengan sengaja.

Ini bukan tesis akademik yang menuntut nuansa; ini adalah produk jurnalistik yang menuntut dampak. Ia tidak berbohong, namun ia memilih untuk melakukan penyederhanaan yang tajam. Fokus, baginya, selalu berarti menyingkirkan elemen-elemen yang bisa mengaburkan narasi utamanya.

Ia kembali mengetik, menyentuh aspek devosi. Ia menulis tentang bagaimana fenomena mukjizat sering kali mengaburkan substansi ajaran itu sendiri. Ia menghindari nama spesifik, namun nada sinisnya terarah dengan presisi. Ia tahu orang-orang seperti Mara akan membaca ini; mereka akan melihat pantulan diri mereka yang rapuh di antara baris-baris kalimat tersebut. Dan ia tidak memberikan ampun.

Kalimat penutupnya ia susun layaknya sayatan pisau tipis yang tak langsung terasa perih: "Ketika iman tidak lagi diuji, ia berhenti menjadi keyakinan, dan mulai menjadi sebuah kebiasaan."

Elias menarik napas panjang saat jemarinya berhenti bergerak. Ia membaca ulang segalanya. Rapi. Sangat rapi. Namun di balik kerapian itu, gema percakapannya dengan sang imam tua tentang "transparansi" kembali membayang. Ia menutup matanya sejenak, lalu dengan satu gerakan mouse yang pasti, ia menekan tombol Kirim.

Ruang redaksi siang itu bertransformasi menjadi mesin yang baru saja disuntik bahan bakar oktan tinggi. Suara dering telepon dan riuh percakapan beradu di udara. Di layar monitor besar yang terpasang di dinding, grafik trafik mulai merangkak naik, lalu melonjak secara vertikal.

Lihat selengkapnya