Ruang arsip universitas adalah sebuah konstanta yang angkuh.
Tempat ini tidak pernah peduli pada siapa pun yang datang atau pergi dengan ambisi mereka. Ia tidak peduli pada teori-teori yang sedang diagungkan atau dogma yang sedang runtuh di dunia luar. Di sini, waktu tidak bergerak secara linear; ia menumpuk, mengendap dalam lapisan-lapisan debu dan kertas.
Elias duduk di hadapan meja kayu panjang yang permukaannya telah tergores ribuan kali oleh kegelisahan para peneliti sebelum dirinya. Laptopnya terbuka, dikelilingi oleh buku-bukunya yang tersebar menyerupai potongan peta dari wilayah yang belum sepenuhnya ia petakan.
Hari ini, ia mengambil keputusan untuk kembali ke titik nol.
Tidak ada retorika gereja. Tidak ada apologetik dari para imam. Tidak ada dialektika tentang wahyu atau mukjizat. Ia menginginkan pendekatan murni: sejarah sebagai sains yang dingin.
"Baik," bisiknya pelan pada keheningan ruangan. "Mari kita bedah dari akarnya."
Ia mengetikkan sebuah tajuk pada dokumen barunya: Yesus dari Nazaret, Sebuah Rekonstruksi Historis.
Ia dengan sengaja menanggalkan sebutan "Kristus" atau "Tuhan". Ia ingin menelanjangi sosok itu dari segala lapisan iman yang telah membungkusnya selama dua milenium. Ia hanya menginginkan manusia. Ia hanya menginginkan data primer yang bisa dipertanggungjawabkan secara empiris.
Langkah pertamanya adalah verifikasi eksistensial yang fundamental: Apakah pria ini benar-benar pernah menapakkan kaki di bumi?
Elias membuka literatur klasik dari sumber-sumber non-kristiani, catatan-catatan yang tidak memiliki kepentingan untuk memoles citra iman tertentu. Ia menelaah karya Tacitus, seorang senator sekaligus sejarawan Romawi yang dikenal karena narasinya yang sinis dan tak kenal ampun.
Tacitus menyebutkan sosok bernama Christus yang dieksekusi pada masa pemerintahan Pontius Pilatus. Tidak ada nada penghormatan di sana; tidak ada penyebutan mukjizat yang spektakuler. Catatan itu terasa dingin, kering, dan bersifat administratif, seperti laporan eksekusi rutin yang dilakukan kekaisaran terhadap pengacau keamanan.
"Tidak simpatik," gumam Elias. "Sempurna."
Ia beralih ke Flavius Yosefus, sejarawan Yahudi yang hidup pada abad pertama. Meski terdapat perdebatan akademik mengenai bagian-bagian yang mungkin disisipkan oleh penyalin di kemudian hari, konsensus ilmiah tetap mengakui bahwa Yosefus mencatat Yesus sebagai tokoh nyata dalam sejarah. Sekali lagi, narasinya tidak emosional. Hanya sebuah fakta keberadaan yang faktual.
Elias menyandarkan punggungnya, menatap layar dengan mata yang menyipit. Ia menuliskan poin pertama: Yesus: Probabilitas figur historis sangat tinggi. Lalu ia menambahkan baris di bawahnya dengan penekanan: Eksistensi vs Keilahian.
Bagi Elias, ini adalah wilayah kekuasaannya. Memisahkan fakta dari interpretasi; mengisolasi keberadaan dari makna teologis yang menyertainya.