Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #12

Chapter 12

Malam merayap turun dengan keanggunan yang dingin, membawa Elias kembali ke meja yang sama.

Lampu meja berpijar rendah, menciptakan lingkaran cahaya yang konsentris di atas permukaan laptopnya yang terbuka. Di luar jendela, kota berdenyut seperti jantung mekanis yang tak mengenal lelah, namun di dalam ruangan ini, atmosfernya telah bergeser. Bukan karena tempatnya, melainkan karena cara Elias menatap baris-baris teks di layarnya. Ia tidak lagi sekadar mencari celah untuk menyerang; ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi seorang skeptis: ia mulai mendengarkan.

Elias membuka dokumen digital berisi surat-surat kuno yang ditulis oleh seorang pria dari Tarsus bernama Paulus, sosok yang secara historis tidak pernah bertatap muka langsung dengan Yesus selama masa pelayanan-Nya, namun menjadi arsitek pertama dari narasi pasca-penyaliban.

"Baik," gumam Elias pelan pada kesunyian. "Mari kita bedah dari sini."

Hipotesis awal Elias sangat pragmatis: konsep keilahian Yesus pastilah sebuah produk evolusi sosiologis. Sebuah ide yang awalnya berskala kecil, lalu perlahan dibesar-besarkan oleh pengikut yang fanatik, dipoles oleh para teolog, dan akhirnya dikanonisasi oleh institusi kekuasaan. Itu adalah pola sejarah yang logis dan sering ia temui di berbagai peradaban.

Namun, saat ia menelisik surat-surat awal itu, teori tersebut mulai menunjukkan retakan. Ia tidak menemukan proses eksplorasi atau keragu-raguan dalam bahasa yang digunakan. Sebaliknya, ia menemukan sebuah bahasa iman yang sudah "matang" sebuah liturgi dan pengakuan yang tidak terdengar seperti sesuatu yang baru saja dikonstruksi secara paksa.

Elias mengernyit, matanya menyisir kata "Tuhan" yang muncul berulang kali. Dalam konteks monoteisme Yahudi yang ketat pada abad pertama, gelar itu bukanlah sekadar metafora puitis. Itu adalah sebuah klaim otoritas yang hanya boleh disematkan pada Allah.

Ia menegakkan punggung, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard.

Klaim tinggi muncul pada periode yang sangat awal. Tidak menunjukkan tanda-tanda evolusi lambat atau mitologisasi bertahap.

Ia mengetuk meja secara ritmis, merasa tidak nyaman. "Ini tidak konsisten dengan pola rekayasa sejarah yang biasanya," bisiknya.

Ia beralih ke sebuah bagian dalam surat kepada jemaat di Filipi, sebuah teks yang oleh para ahli dianggap sebagai himne kuno yang sudah eksis bahkan sebelum Paulus menuliskannya. Artinya, teks ini berasal dari masa yang sangat dekat dengan peristiwa penyaliban itu sendiri.

Elias membaca setiap baris dengan ketelitian seorang analis forensik. Kalimat tentang sosok yang ada dalam "rupa Allah," tentang kesetaraan yang tidak dianggap sebagai rampasan, tentang kerelaan untuk merendahkan diri hingga maut, dan pemuliaan yang mengikutinya.

Jari-jarinya membeku. Jika himne ini benar-benar mencerminkan keyakinan komunitas perdana, maka gagasan tentang keilahian Yesus bukanlah produk sampingan dari konsili ratusan tahun kemudian. Gagasan itu sudah ada sejak titik nol.

"Ini sangat mengganggu," akunya pada diri sendiri. Ia menulis catatan tambahan: Konsep pra-eksistensi dan kesetaraan dengan Allah Muncul hampir seketika.

Dalam benaknya, teori yang ia gunakan untuk membangun artikel sensasionalnya semalam mulai kehilangan pijakan. Jika klaim itu sudah ada sejak awal, maka penjelasannya tidak sesederhana manipulasi institusional.

Lihat selengkapnya