Elias selalu memegang satu prinsip sinis tentang alur peradaban: di balik setiap doktrin besar yang diagungkan, hampir selalu ada bayangan kekuasaan yang manipulatif. Baginya, jika seseorang ingin membongkar fondasi iman, jalan pintas paling efektif adalah dengan menelusuri jejak-jejak politik yang tertinggal di atasnya.
Malam itu, ia duduk di hadapan laptop dengan sensasi familiar yang hampir menyerupai kepulangan. Ini adalah wilayah kedaulatannya, sebuah domain yang dingin, terukur, penuh dengan tumpukan dokumen kusam dan motif-motif tersembunyi yang menunggu untuk dipreteli.
Di sini tidak ada pendar lilin yang syahdu. Tidak ada gumam doa yang pasrah. Yang ada hanyalah sejarah dalam bentuknya yang paling mentah.
Ia mengetikkan satu kata kunci pada mesin pencari: Nicea.
Seketika, layar monitornya dibanjiri oleh jurnal-jurnal akademik dan rekaman sejarah tentang sebuah peristiwa yang selama ini dianggap sebagai titik balik krusial bagi Kekristenan. Konsili Nicea. Elias menyandarkan punggungnya, membiarkan cahaya biru dari layar memantul di retinanya.
"Inilah panggung utamanya," bisik Elias sinis.
Jika ada satu momen dalam sejarah di mana iman bisa dibentuk secara paksa oleh tangan kekuasaan, maka konsili ini adalah kandidat tunggal yang paling sempurna. Ia membuka dokumen pertama, menelusuri catatan latar belakang mengenai konflik teologis yang mulai membelah komunitas Kristen perdana.
Satu nama muncul di tengah narasi: Arius.
Elias membaca dengan ritme yang cepat, hampir rakus. Arius mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Allah yang setara dengan Sang Bapa; bahwa Ia adalah makhluk yang diciptakan, dan ada sebuah titik waktu di mana Ia belum eksis. Elias mengangguk kecil, merasa puas. "Akhirnya," gumamnya, "sebuah konflik kepentingan yang eksplisit."
Beberapa paragraf kemudian, sosok yang ia antisipasi akhirnya muncul: Konstantinus Agung.
Elias menyunggingkan senyum tipis. Seorang kaisar. Penguasa monolitik yang baru saja melegalkan Kekristenan dan memiliki kepentingan absolut untuk menjaga stabilitas kekaisarannya yang mulai retak. Jika ada seseorang yang memiliki motif politik untuk "menciptakan" sebuah doktrin demi persatuan negara, maka Konstantinus adalah orangnya.
Ia mulai mengetik dengan penuh keyakinan: Hipotesis: Intervensi kekaisaran secara langsung dalam pembentukan doktrin keilahian.
Ia mendalami catatan tentang bagaimana Konstantinus mengundang para uskup dari berbagai penjuru dunia. Elias membayangkan adegan di ruangan besar itu, para pemimpin gereja yang berseteru dalam debat panas, dan di tengah-tengah mereka berdiri seorang kaisar yang menuntut ketertiban dengan segala cara.