Perpustakaan universitas menyambut Elias kembali layaknya ruang pengakuan dosa yang tidak menuntut doa maupun penyesalan.
Di bawah deretan lampu neon yang menggantung rendah, cahaya pucat memantul pada permukaan meja kayu yang telah menjadi saksi bisu bagi ribuan pencarian sebelum dirinya. Di balik jendela besar, semburat lembayung sore perlahan tenggelam ditelan malam, namun di dalam ruangan ini, waktu terasa membeku dalam lapisan-lapisan literatur yang stagnan.
Hari ini, Elias tidak sedang berburu teori baru. Ia memilih untuk mundur, melangkah lebih jauh ke belakang daripada yang pernah ia bayangkan. Jika Konsili abad keempat tidak menyuguhkan skandal politik yang cukup telanjang untuk meruntuhkan segalanya, maka ia harus menelusuri jejak-jejak yang lebih purba, lebih dekat ke sumber api yang pertama kali dinyalakan.
Ia membuka laptopnya dengan gerakan taktis. Jemarinya mengetikkan sebuah nama yang muncul dari kabut masa lalu: Ignatius dari Antiokhia.
Elias mulai membedah surat-surat Ignatius. Teks itu tidak lahir di ruang kerja yang nyaman atau di atas meja akademik yang steril, melainkan dalam perjalanan menuju eksekusi mati di Roma. Seorang pria tua yang sedang menghitung sisa napasnya.
Elias mendalami baris demi baris hingga ia terpaku pada sebuah frasa sederhana namun destruktif: "Allah kita, Yesus Kristus..."
Ia terdiam, menatap layar dengan intensitas yang menyakitkan. Ia membaca ulang kalimat itu, berkali-kali. Nada tulisan Ignatius bukanlah sebuah perdebatan retoris atau upaya persuasif yang dipaksakan; itu terdengar seperti sebuah realitas yang sudah diterima secara universal dalam komunitasnya.
Elias menyandarkan punggungnya pada kursi yang dingin. "Ini terlalu awal," bisiknya parau.
Ia memeriksa penanggalan teks tersebut. Akhir abad pertama atau awal abad kedua. Secara historis, itu masih dalam jangkauan generasi pertama pengikut Yesus. Terlalu dini bagi sebuah mitos besar untuk berkembang secara organik dari bawah.
Ia membuka buku catatannya dan menulis dengan tinta hitam yang kontras: Ignatius: Atribusi keilahian pada Yesus Terjadi Sangat awal. Konteks: Di tengah penganiayaan maut, bukan di bawah naungan kekuasaan.
Retakan pertama mulai muncul pada narasinya. Jika ini adalah propaganda, mengapa ia muncul saat tidak ada kekuasaan untuk mendukungnya? Mengapa klaim ini dipertahankan justru ketika konsekuensinya adalah kematian yang mengerikan?