Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #15

Chapter 15

Ada sebuah titik nadir dalam setiap pencarian obsesif di mana seseorang akhirnya berhenti berlari. Bukan karena ia telah menggenggam jawaban mutlak, melainkan karena ia menyadari bahwa dirinya telah berdiri terlalu dekat dengan api untuk terus berpura-pura kedinginan.

Elias sampai di titik itu tanpa rencana, tanpa peringatan.

Malam itu, meja kerjanya berubah menjadi altar sunyi. Tidak ada denting musik yang mengalihkan, tidak ada uap kopi yang tersisa. Hanya pendar biru dari layar laptop dan tumpukan catatan yang kini menyerupai barisan saksi bisu, menatapnya dengan penghakiman yang tenang. Ia tidak lagi sudi menyentuh artikel opini atau jurnal populer yang dangkal. Ia ingin menyentuh sumbernya langsung, titik di mana tinta pertama kali digoreskan di atas papirus yang gemetar.

Ia mengetikkan nama itu kembali, sosok yang kini terasa seperti bayangan yang terus mengejarnya: Paulus dari Tarsus.

Dokumen-dokumen kuno itu muncul di hadapannya. Surat-surat. Bukan sebuah sistem teologi yang dikurasi dengan apik berabad-abad kemudian, melainkan korespondensi organik yang dikirimkan kepada komunitas-komunitas kecil yang ringkih. Orang-orang biasa yang hidup dalam jepitan kecemasan, kerja keras, dan harapan yang tipis.

Elias menarik napas, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. "Jika memang ada manipulasi sistematis," gumamnya pada kegelapan, "akar busuknya harus ditemukan di sini."

Ia membuka salah satu surat yang secara akademik diakui berasal dari medio tahun 50-an, hanya dua dekade setelah peristiwa penyaliban di Golgota. Angka dua puluh tahun itu kembali menghantam kesadarannya, berdenyut seperti luka lama yang menolak sembuh.

Elias membaca dengan ritme yang sengaja diperlambat. Ia tidak lagi memburu kalimat-kalimat sensasional untuk dijadikan peluru artikelnya. Ia sedang mencoba membedah pola pikir, nada suara, dan kebiasaan mental sang penulis. Di sana, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar argumen teologis: sebuah pola yang dianggap normal tanpa perlu diperdebatkan.

Matanya terpaku pada bagian penutup surat itu. Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, hampir menyerupai formalitas liturgis: "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu."

Elias mematung. Ia membaca ulang kalimat itu, memisahkannya kata demi kata dengan ketajaman seorang analis forensik. Tuhan Yesus Kristus. Allah. Roh Kudus. Tiga entitas dalam satu napas tunggal. Tanpa penjelasan panjang lebar, tanpa upaya pembuktian yang defensif.

Lihat selengkapnya