Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #16

Chapter 16

Ada saatnya dalam sebuah obsesi di mana seseorang berhenti memburu kebenaran dan mulai berburu celah; sebuah upaya putus asa untuk menyelamatkan kesimpulan lama yang mulai runtuh.

Elias tidak akan pernah mengakui kerapuhan itu di depan publik. Namun malam itu, di bawah pendar lampu meja yang tajam, ia tahu persis apa yang sedang ia lakukan. Ia menatap dokumen kosong di layar laptopnya, berharap jemarinya mampu merajut satu teori terakhir, sebuah benteng intelektual yang bisa melindungi sisa-sisi skeptisismenya.

"Baik," gumamnya, suaranya parau memecah kesunyian. "Kalau bukan konspirasi gereja... kalau bukan desain kekaisaran... maka satu orang jenius sudah cukup."

Matanya menyempit, memfokuskan seluruh sisa energinya pada satu target. "Satu arsitek."

Ia mengetikkan nama itu dengan hentakan tuts yang mantap: Paulus dari Tarsus.

Kursor berkedip, menanti narasi yang akan Elias bangun. Ia mulai menyusun kalimat pembuka yang provokatif: "Paulus, sang arsitek sejati di balik konstruksi Kekristenan."

Ia berhenti sejenak untuk mengagumi ketajaman kalimat itu. Terasa kuat. Memuaskan. Ia membayangkan Paulus sebagai seorang intelektual brilian yang dididik dalam tradisi Yahudi yang paling ketat, namun sangat fasih dengan dialektika Yunani-Romawi. Seorang pria yang mampu menjembatani dua peradaban. Jika ada seseorang yang memiliki kapasitas untuk "mengangkat" seorang pengkhotbah dari desa terpencil menjadi figur kosmis yang megah, maka Paulus adalah orangnya.

"Sangat masuk akal," Elias meyakinkan dirinya sendiri.

Argumennya mulai mengalir. Paulus tidak pernah berjalan bersama Yesus semasa hidup-Nya. Ia adalah pendatang baru yang membawa bahasa teologis yang jauh lebih sistematis dan luas. Ia memiliki motif dan kemampuan untuk menafsirkan ulang, membentuk kembali, dan mengeksploitasi ide-ide sederhana menjadi doktrin universal. Elias mengetik lebih cepat, merasakan ritme keyakinannya yang lama perlahan kembali merayap ke permukaan.

Namun, kejujuran intelektualnya kembali berkhianat. Ia membuka surat-surat Paulus bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menguji ketahanan teorinya. Dan di sanalah, di antara baris-baris teks yang kusam, ia menemukan kalimat yang membuatnya terhenti.

Bukan sebuah deklarasi teologis yang berat, melainkan pernyataan sederhana yang rendah hati: bahwa ia hanya "menerima" apa yang ia teruskan kepada orang lain.

Elias mengernyit. Ia mencari referensi lain dan menemukan pola yang sama. Mengapa Paulus jika ia memang seorang manipulator yang ingin membangun imperium ideologinya sendiri terus-menerus menekankan bahwa ia bukanlah sumber primernya?

Ia mencatat dengan ragu: Paulus: Berulang kali mengklaim menerima tradisi, bukan menciptakannya.

Lihat selengkapnya