Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #17

Chapter 17

Hujan turun tipis, membasuh kaca jendela dengan irama yang menyerupai bisikan rahasia yang enggan didengar terlalu banyak orang.

Elias terduduk di depan laptopnya dalam pendar lampu kamar yang redup. Cahaya layar memantulkan bayangan wajahnya yang tampak kian lelah, bukan sekadar karena defisit tidur, melainkan karena labirin pemikiran yang tak lagi menyisakan tempat untuk bersembunyi. Di layar monitor, sebuah gambar statis menatapnya balik. Sebuah mosaik kuno yang menampilkan wajah seorang pria dengan sorot mata tajam, dahi yang keras, dan guratan pengalaman yang tak mampu disamarkan oleh estetika seni.

Paulus dari Tarsus.

Elias terpaku cukup lama pada citra itu. "Siapa kau sebenarnya?" gumamnya lirih. Sosok itu bukan lagi sekadar objek studi yang dingin atau variabel dalam sebuah teori konspirasi. Paulus kini berdiri terlalu dekat dalam kesadaran Elias, menuntut perhatian yang lebih dari sekadar analisis jurnalistik.

Elias memutuskan untuk membedah segalanya dari titik nol. Bukan dari surat-suratnya, bukan pula dari doktrin yang ia sebarkan, melainkan dari anatomi hidupnya.

Saulus. Itu adalah identitas lamanya.

Seorang Farisi tulen. Produk dari disiplin tradisi yang sangat ketat. Bagi Saulus, religiusitas bukanlah sekadar estetika, melainkan napas; kepercayaan bukanlah sekadar opini, melainkan keyakinan yang absolut. Elias menelaah kembali catatan latar belakang pria itu, bagaimana ia memandang Taurat sebagai peta moral yang tak boleh cacat, dan bagaimana ia melihat komunitas pengikut Yesus sebagai kanker yang harus diamputasi. Bukan hanya dianggap keliru, tapi eksistensial dan berbahaya.

Elias mengetikkan poin pertama dengan ritme pelan: Saulus: Penjaga kemurnian iman yang militan. Ia menjeda sejenak, lalu menambahkan dengan lebih objektif: Motif awal: Bukan kejahatan murni, melainkan keyakinan yang ekstrem.

Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Ada resonansi yang ia kenali di sana, sebuah potret tentang seseorang yang begitu yakin akan kebenaran versinya sendiri hingga merasa memiliki mandat untuk menghancurkan apa pun yang dianggap menyimpang. Ia tak mengatakannya dengan lantang, namun batinnya mencatat kemiripan itu dengan getir.

Ia membuka fragmen sejarah berikutnya. Sebuah peristiwa berdarah yang terekam kuat: perajaman seorang pengikut awal bernama Stefanus. Saulus ada di sana. Bukan sebagai penonton yang pasif, melainkan sebagai otoritas yang menyetujui. Ia menyaksikan maut menjemput orang lain dengan kepuasan dari seseorang yang merasa sedang menegakkan keadilan Tuhan.

Elias menatap layar dalam keheningan yang menyesakkan. Tanpa dramatisasi, fakta itu terasa seperti beban yang menindih dadanya. ia menulis: Terlibat aktif dalam kekerasan religius.

"Ini bukan tokoh yang mudah untuk dicintai," gumam Elias. Namun, justru kompleksitas gelap itulah yang membuat transisi hidup pria ini menjadi teka-teki yang menggiurkan.

Elias melanjutkan ke titik balik yang legendaris: perjalanan menuju Damsyik. Ia membaca berbagai versi narasi tersebut. Cahaya yang membutakan, suara yang menggelegar, dan kejatuhan yang menghinakan.

Elias menutup matanya rapat-rapat, mencoba menepis elemen supranatural dari pikirannya. Ia belum siap untuk itu. Ia memaksa nalarnya tetap berada di jalur psikoanalisis yang aman. Krisis batin. Proyeksi rasa bersalah yang terpendam. Mungkin sebuah retakan mental yang sudah ada sebelum perjalanan itu dimulai.

Lihat selengkapnya