Malam itu, atmosfer terasa hampa, seolah-olah angin pun enggan bertiup melewati celah-celah kota. Udara diam membeku, menciptakan keheningan yang menyesakkan, seakan seluruh dunia sedang menahan napasnya sendiri.
Elias duduk mematung di hadapan laptop. Layarnya sudah menyala terang, namun jemarinya hanya menggantung kaku di atas papan ketik. Ada keraguan yang berat dalam setiap inci gerakannya, sebuah firasat bahwa langkah berikutnya akan membawanya ke wilayah yang tak bisa ia tinggalkan lagi.
Ia mengetik satu kata kunci, seolah memanggil iblis dari masa lalu: Nero.
Layar itu seketika muntah dengan data. Catatan sejarah yang kelam, analisis akademik yang tajam, hingga fragmen tulisan kuno yang berhasil selamat dari lidah api dan gerusan zaman. Nama itu berdiri dengan angkuh di tengah kekacauan informasi.
Nero.
Elias mulai menelusuri catatan masa pemerintahannya di Roma. Ia membaca tentang api besar yang melalap jantung kekaisaran dan bagaimana sang kaisar membutuhkan kambing hitam untuk meredam kemarahan rakyat. Targetnya adalah sebuah kelompok marginal yang dianggap ganjil dan eksklusif, orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai pengikut Kristus.
Laporan tentang penganiayaan itu tidak hanya dingin; mereka berdarah. Penangkapan massal, penyiksaan yang dirancang untuk menghancurkan martabat, dan eksekusi yang jauh dari kata manusiawi. Elias menarik napas panjang, berusaha mengusir rasa mual. Ini bukan lagi sekadar dialektika teologis di ruang kelas; ini adalah realitas sejarah yang ditulis dengan nyawa.
Ia terus menggulir layar hingga nama itu muncul kembali: Paulus dari Tarsus.
Tradisi kuno mencatat dengan konsisten bahwa Paulus menemui ajalnya di Roma. Ia dieksekusi bukan sebagai pemberontak yang mengangkat pedang, bukan pula sebagai ancaman militer bagi legion Romawi. Ia dipenggal sebagai seorang saksi.
"Saksi," gumam Elias parau.
Kata itu kini kehilangan netralitasnya. Ia bukan lagi sekadar istilah yuridis dalam kepalanya. Kata itu kini memikul bobot kematian yang nyata.
Elias membuka lembar catatan baru. Jemarinya bergerak lamban, seolah setiap huruf yang ia ketik memiliki massa yang menekan.
Argumen skeptis umum: Manusia sering kali mati demi sebuah kebohongan.
Ia berhenti sejenak dan mengangguk pahit pada dirinya sendiri. Secara sosiologis, itu fakta. Sejarah dipenuhi oleh para martir gadungan yang rela mati demi keyakinan yang sebenarnya keliru. Orang bisa sangat fanatik terhadap sesuatu yang salah hingga mereka bersedia mengorbankan segalanya.
Elias mengetuk meja secara ritmis, mencoba memperkuat benteng skeptisismenya. "Ya, itu bukan fenomena baru," bisiknya.