Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #19

Chapter 19

Ruang seminar itu tidaklah besar, namun pengap oleh aroma buku tua dan debu yang menempel di sela-sela gorden. Dindingnya bercat putih pucat, menyerupai halaman kosong yang terlalu sering dihapus hingga menyisakan jejak kusam. Di sudut ruangan, sebuah papan tulis masih memikul sisa-sisa spidol yang belum bersih sempurna, sekumpulan artefak dari diskusi yang datang dan pergi tanpa pernah meninggalkan kepastian.

Elias duduk di atas kursi kayu yang keras, berhadapan dengan meja sederhana yang permukaannya dipenuhi goresan waktu. Di atasnya, secangkir kopi telah kehilangan kepul uapnya. Dingin dan hambar, persis seperti argumen-argumen skeptis yang selama ini ia ulang-ulang dalam kepalanya. Kali ini, Elias tidak datang untuk mencari pembenaran atas artikel-artikel tajamnya. Ia datang untuk satu hal: menguji batas logika dari sebuah misteri yang selama ini ia anggap sebagai lelucon intelektual.

Di seberangnya, duduk seorang pria tua dengan rambut yang mulai menipis. Sorot matanya tajam namun tidak memiliki intensitas agresif; ada sebuah ketenangan yang berakar di sana, bukan ketenangan dari seseorang yang merasa memiliki semua jawaban, melainkan dari seseorang yang tidak lagi tergesa-gesa untuk menutup pintu pertanyaan.

Namanya sempat bergema di awal pertemuan sebagai seorang dosen filsafat klasik. Elias, dengan keangkuhan jurnalisnya, tidak terlalu memedulikan gelar-gelar akademik itu. Baginya, hanya satu yang relevan: apakah pria ini mampu bertahan di bawah tekanan logikanya, ataukah ia hanya akan hancur seperti lawan-lawan debatnya yang lain.

"Baik," Elias memulai tanpa basa-basi, suaranya datar dan langsung pada intinya. Ia tidak butuh pemanasan retoris.

Ia berdiri, meraih spidol hitam, lalu menuliskan satu baris angka di papan tulis dengan hentakan yang tegas:

1 = 3

Ia berbalik, menyilangkan tangan di depan dada, dan menatap sang dosen dengan pandangan menantang. "Ini," katanya dingin, "adalah episentrum masalahnya. Secara matematis, satu adalah satu. Tiga adalah tiga. Bagaimana mungkin satu bisa menjadi tiga tanpa mengkhianati hukum kontradiksi?"

Ruangan itu jatuh ke dalam keheningan selama beberapa detik. Sang dosen tidak tampak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis, seolah-olah pertanyaan Elias bukanlah sebuah serangan, melainkan sebuah pintu lama yang sudah sangat ia kenal lekuk-lekuknya.

"Pertanyaan yang sangat mendasar," sahut sang dosen akhirnya. Suaranya berat dan stabil, tanpa nada defensif.

Ia bangkit perlahan dari kursinya, mengambil spidol dari tangan Elias. Ia tidak menghapus angka yang ditulis Elias, melainkan menambahkan satu baris kalimat di bawahnya dengan tulisan yang rapi:

1 Hakikat 3 Pribadi

Elias mengernyitkan dahi. Alisnya terangkat dalam ekspresi skeptis yang kental. "Perbedaannya?" tuntutnya.

Dosen itu menoleh, memposisikan dirinya di samping papan tulis. "Kita harus mulai dari kategori," jelasnya tenang. "Banyak kesalahpahaman intelektual lahir bukan karena logikanya yang cacat, melainkan karena kategorinya yang tertukar."

Ia menuliskan dua kata bahasa Inggris di papan:

What

Who

Ia menarik garis tegas di bawah keduanya. "Ketika kita bertanya 'apa', kita sedang membedah hakikat atau substansi. Namun, ketika kita bertanya 'siapa', kita sedang berbicara tentang pribadi. Apakah Anda menangkap maksud saya?"

Elias terdiam. Ia memperhatikan setiap goresan spidol itu dengan intensitas seorang penyelidik. Ia masih sangat skeptis, namun ia mulai menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan seorang apologet amatir.

"Doktrin Trinitas," lanjut sang dosen, "tidak pernah mengeklaim bahwa satu pribadi adalah tiga pribadi. Itu memang kontradiksi yang konyol."

Ia memastikan mata Elias terkunci pada penjelasannya. "Yang dikatakan adalah: satu hakikat ilahi yang tunggal, ada dalam tiga pribadi yang berbeda."

Ia menuliskan istilah teknis di papan:

1 Ousia (Hakikat)

Lihat selengkapnya