Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #20

Chapter 20

Malam itu, Elias tidak mencari pelarian dalam lembaran kitab kuno. Ia justru berhadapan dengan papan tulis putih yang dingin, seolah benda itu adalah cermin bagi kekalutan batinnya. Spidol hitam di tangannya bergerak dengan ritme yang ganjil, terkadang lebih cepat dari kilatan pikirannya, terkadang justru tertinggal di belakang logika yang mulai merayap menjauhi definisi-definisi usang.

Di atas permukaan putih itu, ia menuliskan sebuah aksioma dasar yang selama ini menjadi fondasinya:

A ≠ non-A

Ia terpaku, menatap baris itu dengan intensitas yang menyakitkan. Inilah dunia yang ia pahami, sebuah semesta di mana sesuatu tidak mungkin menjadi sekaligus tidak menjadi dalam substansi dan waktu yang sama. Bagi Elias, logika bukanlah sekadar instrumen intelektual; itu adalah pagar besi yang melindunginya dari kegilaan irasionalitas. Selama bertahun-tahun, ia meringkuk dengan nyaman di balik pagar itu.

Dengan gerakan mekanis, ia menambahkan catatan di bawahnya:

Definisi Kontradiksi:

Menegaskan dan menyangkal hal yang sama, dalam arti yang sama, pada waktu yang sama.

Elias mengangguk kecil, sebuah konfirmasi bagi dirinya sendiri. Jelas. Presisi. Tidak ada celah bagi abu-abu yang meragukan. Ia melangkah mundur, menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap tulisannya seolah sedang menantang musuh lama.

"Baik," gumamnya parau. "Sekarang mari kita uji."

Jemarinya kembali menari di atas papan, kali ini dengan tempo yang lebih lambat, seakan setiap huruf memikul beban eksistensial yang tak tertahankan.

Allah = Satu

Allah = Tiga

Ia berhenti mendadak. Matanya terkunci pada dua baris kalimat itu. Biasanya, di titik inilah ia akan mendengus meremehkan dan menutup buku dengan kesimpulan mutlak: kontradiksi. Kasus ditutup. Namun malam ini, ada sesuatu yang menahan langkahnya untuk berpaling.

Ia menambahkan keterangan yang selama ini selalu ia anggap sebagai sampah teologis:

Lihat selengkapnya