Malam itu, Elias datang tanpa amunisi intelektualnya. Tidak ada laptop yang biasanya ia gunakan sebagai perisai, tidak ada tumpukan catatan, dan tidak ada daftar pertanyaan yang disusun rapi menyerupai interogasi dingin. Ia hanya membawa satu hal yang selama ini selalu ia coba musnahkan dari sistem pikirannya: sebuah keraguan yang, secara mengejutkan, tidak lagi ingin ia kalahkan.
Apartemen Mara tidak berubah sedikit pun. Ruangan itu tetap setia pada kesederhanaannya; sunyi dan jujur. Pendar lampu kuning yang redup memantul di dinding yang bersih dari dekorasi berlebihan. Tidak ada simbol religius yang mencolok mata, tidak ada upaya untuk menciptakan suasana dramatis. Hanya sebuah ruang hidup yang apa adanya.
Mara membuka pintu tanpa banyak retorika. Ia menatap Elias sejenak, bukan dengan kecurigaan seorang terdakwa, bukan pula dengan kehangatan yang dipaksakan. Sorot matanya lebih menyerupai seseorang yang sudah terlalu lelah untuk sekadar memberikan penilaian.
"Masuk," katanya pelan. Elias mengangguk, lalu melangkah melintasi ambang pintu.
Mereka duduk berhadapan di sebuah meja kecil yang menjadi batas antara dua dunia yang berbeda. Dua cangkir tersedia di sana; satu sudah terisi uap tipis, yang lain masih kosong menunggu giliran. Elias terdiam. Itu bukan kebiasaannya. Biasanya, ia akan segera mendominasi ruang dengan rentetan pertanyaan, tekanan, dan arah pembicaraan yang ia kendalikan. Namun malam ini, ia membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Dan anehnya, diam itu tidak terasa seperti sebuah ancaman.
"Apa yang kamu cari sekarang?" tanya Mara akhirnya. Suaranya lembut, tidak defensif, hanya murni ingin tahu.
Elias menatap cangkir kosong di depannya selama beberapa detik sebelum mengangkat wajahnya. "Kehilangan," jawabnya singkat. Pengakuan itu jujur, tanpa hiasan.
Mara tidak langsung merespons. Ia hanya menatap Elias, mencoba membedah apakah kata itu adalah sebuah jawaban teknis atau sebuah pengakuan jiwa.
Elias menghela napas, lebih panjang dan berat dari yang ia duga. "Aku membaca tentang..." ia menjeda sejenak, mencari resonansi yang tepat dalam benaknya. "...Maria."
Nama itu jatuh di tengah mereka, tidak sebagai doktrin yang kaku atau simbol gerejawi yang agung. Nama itu hadir sebagai sosok manusia. Mara sedikit menundukkan kepala, seolah nama itu membawa beban emosional yang tidak memerlukan penjelasan verbal.
"Aku selalu menganggap dia hanya sebuah ikon. Simbol. Figur religius yang dipoles sejarah," Elias tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang kering. "Tapi sekarang..." Ia membiarkan kalimat itu menggantung di udara.
Mara menatapnya, menunggu Elias menyelesaikan fragmen pikirannya.
"Sekarang aku melihatnya sebagai seorang ibu," lanjut Elias, suaranya merendah dan memberat. "Aku membaca bagian di mana dia berdiri tepat di bawah salib." Ia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "Dia melihat anaknya sendiri mati."
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Bukan karena kesunyian fisik, melainkan karena realitas dari kata-kata itu begitu nyata dan menindas.
Waktu seolah kehilangan urgensinya. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat. Elias melanjutkan kembali, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Tidak ada mukjizat yang datang menghentikan semua itu. Tidak ada yang turun dari langit untuk membatalkan kematian itu." Ia mengangkat kepalanya, mengunci pandangannya pada mata Mara.