Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #24

Chapter 24

Hari itu, Elias tidak melangkah menuju gedung gereja dengan menara lancip yang menusuk langit. Ia justru mencari sesuatu yang jauh lebih sunyi, lebih dalam dari sekadar untaian doa yang sering kali terdengar seperti tuntutan. Ia bergerak menjauh dari keriuhan dogma, mendekati keheningan absolut yang tidak menjanjikan jawaban apa pun.

Ia duduk mematung di depan layar monitornya. Tidak ada jendela berita yang terbuka, tidak ada draf artikel yang menunggu untuk dipoles. Hanya ada satu gambar diam yang memenuhi seluruh bingkai layar.

Pietà.

Karya itu bukan hal asing baginya. Elias sudah berulang kali melihatnya dalam buku-buku tebal, di sudut-sudut tak terbatas internet, hingga dalam slide presentasi yang membedah sejarah seni rupa Renaisans. Namun hari ini, atmosfernya terasa berbeda. Ia tidak lagi menatapnya sebagai objek studi estetika atau pencapaian teknik pahat. Ia melihatnya sebagai sebuah pertanyaan yang menusuk.

Seorang ibu. Seorang anak.

Tubuh yang tidak lagi mampu memompa napas. Tangan yang terkulai lemas, kehilangan sisa-sisa daya untuk menggenggam dunia. Tidak ada gerak, tidak ada suara; hanya keheningan masif yang dipahat dengan presisi di atas batu marmer yang dingin.

Elias memperbesar resolusi gambar tersebut. Matanya bergerak dengan ritme yang lambat, menelusuri garis-garis pahatan yang meliuk dramatis. Lipatan kain pada jubah sang ibu tampak terlalu halus, terlalu melambai untuk sebuah material batu. Dan wajah itu... wajah itu adalah pusat dari kegelisahannya.

Wajah Maria.

Tidak ada teriakan histeris yang terekam di sana. Tidak ada guratan kehancuran yang meledak-ledak. Namun, wajah itu juga tidak bisa dikatakan utuh. Ia menyerupai cakrawala samudra sesaat setelah badai besar berlalu; tampak tenang di permukaan, namun menyimpan kedalaman duka yang tidak akan pernah benar-benar surut.

Elias menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, namun tatapannya tetap terkunci pada layar. "Kenapa harus seperti ini?" gumamnya lirih. Pertanyaan itu muncul begitu saja, telanjang dari konteks akademik, bersih dari segala agenda skeptis yang biasa ia usung.

Dalam logikanya, jika sebuah sistem kepercayaan memiliki ambisi untuk menaklukkan dunia, ia pasti akan memilih simbol-simbol kekuasaan yang mengintimidasi. Pedang yang berkilau, mahkota bertahtakan permata, tahta kencana, atau narasi kemenangan yang gilang-gemilang. Ia seharusnya mempertontonkan kejayaan, dominasi, dan keunggulan absolut.

Namun di sini, di hadapannya, yang dipajang sebagai pusat pengabdian justru adalah tubuh yang mati dan kalah.

Ia memperbesar bagian tangan Yesus yang terkulai. Tangan itu hampa, tidak sedang mempertahankan otoritas apa pun. Elias memperhatikan detail jari-jarinya yang lemas, tidak tegang, tidak melawan maut. Seperti sebuah penyerahan yang total atau mungkin, sebuah penyelesaian yang tuntas.

Lihat selengkapnya