Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #26

Chapter 26

Pagi itu merayap masuk tanpa sedikit pun drama. Tidak ada badai yang menyapu kaca jendela, tidak ada cahaya surgawi yang menyilaukan mata. Hanya sebuah pagi biasa yang datar jenis pagi yang sering kali diabaikan oleh orang-orang karena dianggap tidak menjanjikan kejutan apa pun. Namun bagi Elias, justru ketenangan seperti inilah yang paling berbahaya. Di dalam kesederhanaannya yang sunyi, pagi itu memberikan ruang yang terlalu luas bagi pikirannya untuk berkelana tanpa kendali.

Ia duduk mematung di meja kerjanya. Layar laptop dibiarkan tertutup, ponselnya terkunci tanpa notifikasi yang diizinkan mengganggu. Hanya ada buku catatan yang terbuka dan sebatang pena di tangannya. Elias menatap halaman putih yang kosong itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya mulai menulis. Gerakannya pelan, seolah-olah setiap kata harus melewati filter yang jauh lebih ketat dari standar jurnalistiknya yang biasa.

Tanggal

Makna

Ia berhenti. Menatap dua kata itu yang kini berdiri seperti garis demarkasi di atas kertas. Sederhana, namun terasa seperti perbatasan antara dua dunia yang berbeda.

Elias menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang ganjil. Di bawah kolom pertama, ia mulai menyusun daftar dengan efisiensi yang dingin:

25 Desember

Saturnalia

Sol Invictus

Perkembangan Liturgi

Penetapan Abad Keempat

Ia menatap daftar itu dengan saksama. Wilayah ini adalah teritorinya. Aman. Terukur. Ini adalah medan di mana ia bisa mengerahkan seluruh kemampuan analisisnya untuk membedah, mendebat, dan akhirnya membongkar konstruksi sejarah yang ia anggap rapuh.

Lalu, matanya beralih ke kolom kedua. Tangannya tidak langsung bergerak. Ia terpaku pada kekosongan di sana selama beberapa saat, seolah-olah kata yang akan ia tuliskan memiliki massa yang jauh lebih berat dari tinta yang mengalirkannya. Akhirnya, dengan jari yang sedikit kaku, ia menulis:

Inkarnasi

Allah menjadi manusia

Elias meletakkan penanya. Ia tidak sanggup menulis lebih banyak lagi. Ia hanya menatap kedua kolom itu berdampingan. Ada sesuatu yang sangat berbeda di sana, bukan sekadar perbedaan konten, melainkan bobot eksistensialnya. Kolom pertama terasa seperti tumpukan detail administratif; namun kolom kedua... kolom kedua terasa seperti pusat gravitasi yang menarik segala sesuatu ke arahnya.

Lihat selengkapnya