Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #27

Chapter 27

Malam itu tidak memiliki elemen visual yang bisa dikambinghitamkan. Tidak ada curah hujan yang dramatis menyapu kaca, tidak ada kilat yang membelah cakrawala, bahkan tidak ada alunan musik latar yang menandakan bahwa sebuah benteng pertahanan akan segera pecah. Justru sebaliknya, malam itu terasa terlalu tenang. Dan ketenangan semacam itu sering kali menjadi ruang paling berbahaya bagi hal-hal yang telah lama dipendam untuk akhirnya mendesak keluar.

Elias mematung selama beberapa detik di depan pintu apartemen Mara sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetuk. Tangannya sempat terangkat, menggantung di udara, lalu turun kembali. Ia adalah pria yang tidak terbiasa dengan keraguan, namun malam ini, instingnya membisikkan sesuatu: ini bukan sekadar percakapan biasa. Ini bukan wawancara investigatif, bukan pula perdebatan intelektual yang biasa ia menangkan. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih dekat dengan sebuah pengakuan.

Akhirnya, ketukan itu mendarat juga.

Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Mara. Wajah perempuan itu tampak lelah, sebuah kelelahan kronis yang seolah sudah menjadi bagian dari fitrahnya. Namun, ketenangan di matanya tidak berubah ketenangan yang, entah bagaimana, justru membuat kegelisahan di dada Elias semakin meradang.

"Masuk," ucap Mara singkat. Ia tidak bertanya mengapa Elias datang di jam seperti ini, tidak pula mencoba menebak tujuannya. Seolah-olah ia sudah memprediksi bahwa momen ini memang akan tiba.

Apartemen itu tetap setia pada kesederhanaannya. Minim barang, tanpa gangguan visual, dan tanpa simbol religius yang provokatif. Hanya ada sebatang lilin kecil yang menyala di atas meja, berpendar tanpa pretensi untuk menerangi seluruh ruangan.

Mereka duduk berhadapan. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat untuk terasa mengintimidasi, namun tidak cukup jauh untuk membiarkan salah satu dari mereka bersembunyi. Beberapa detik pertama hanya diisi oleh keheningan yang menyesakkan. Elias menatap permukaan meja, sementara Mara menunggu. Perempuan itu tidak mencoba menyelamatkan suasana atau mengisi kekosongan dengan basa-basi. Justru itulah yang membuat Elias merasa telanjang.

Akhirnya, Elias memecah kesunyian. Tanpa kata pembuka, tanpa strategi retorika. Ia langsung menghantam tepat ke jantung masalahnya.

"Kalau Tuhan memang ada," suaranya keluar lebih keras dan tajam dari yang ia rencanakan, "mengapa Dia tidak menyelamatkan pria itu?"

Ia tidak perlu menyebutkan nama. Sosok tunangan Mara sudah hadir di sana, berdiri di antara mereka seperti bayangan yang menolak untuk memudar. Mara tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap Elias bukan dengan tatapan defensif seorang apologet yang siap berdebat, melainkan hanya melihat manusia yang sedang terluka di hadapannya.

Elias tidak berhenti. "Bukan cuma dia," lanjutnya, suaranya kini bergetar oleh amarah yang lama mengendap. "Anak-anak mati setiap hari. Orang-orang baik hancur tanpa alasan yang jelas. Kecelakaan, penyakit mematikan, bencana alam yang membabi buta." Ia tertawa pendek, sebuah tawa kering yang hampa akan humor.

"Orang-orang berdoa, Mara. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, dengan seluruh iman dan harapan yang mereka miliki." Elias menatap Mara tajam, seolah sedang menuntut pertanggungjawaban. "Dan langit tetap diam."

Kata terakhir itu jatuh dengan dentum yang berat, seperti palu godam yang menghantam lantai. Elias bersandar ke depan, kedua tangannya bertumpu di atas meja seperti seorang jaksa yang baru saja membacakan dakwaan utama dalam sebuah persidangan besar.

"Bukankah itu bukti nyata?" desaknya. "Bahwa sebenarnya tidak ada yang mendengar? Bahwa semua agama dan ritual ini hanyalah cara menyedihkan bagi manusia untuk bertahan dari realitas yang kejam?"

Lihat selengkapnya