Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #28

Chapter 28

Malam itu tetap membeku, tak bergeming. Tidak ada tanda-tanda spektakuler yang turun dari langit, tidak ada jawaban yang menyambar layaknya kilat yang membelah kegelapan. Namun, atmosfer di dalam ruangan sempit itu telah mengalami pergeseran tektonik. Halus, hampir tak kasat mata, seperti jarum jam yang beringsut tanpa suara namun membawa kepastian yang mutlak.

Elias masih terpaku di kursinya. Tubuhnya hadir di sana, namun jiwanya seolah tertinggal, terperangkap di antara gema kata-kata yang baru saja terucap. Ia tidak lagi menyusun strategi serangan; tidak ada lagi argumen sinis yang berputar di kepalanya. Ia hanya diam. Dan bagi pria yang seluruh hidupnya dibangun di atas fondasi dialektika dan pembuktian, diam adalah wilayah asing yang mengintimidasi.

Mara menatapnya sejenak. Tatapan itu bukan untuk membedah motif atau menghakimi keraguan; ia hanya ingin memastikan bahwa Elias masih bernapas di sana, secara utuh.

"Iman bukan cara untuk menghindari luka," ucap Mara akhirnya. Suaranya datar, tanpa usaha untuk terdengar kuat ataupun puitis. Hanya sebuah kejujuran yang telanjang.

Elias tidak langsung merespons. Kalimat itu meresap perlahan ke dalam batinnya, seperti air yang merembes ke dalam tanah yang sudah terlalu lama pecah karena kekeringan. Tidak ada drama, namun ia meresap hingga ke akar.

"Iman adalah cara agar kau tidak hancur oleh luka itu."

Kali ini, Elias mengangkat wajahnya dan menatap Mara langsung. Tidak ada lagi barikade defensif di matanya, namun juga belum ada penerimaan yang utuh. Ia sedang berada di ambang pintu, terjepit di antara dua dunia.

"Itu... terdengar seperti sekadar bertahan hidup," gumam Elias pelan.

Mara mengangguk tanpa ragu. "Memang," jawabnya singkat.

Tidak ada pembelaan yang manis. Tidak ada upaya untuk memoles kenyataan pahit itu menjadi sesuatu yang lebih estetis. Dan justru kejujuran yang kasar itu yang mulai mengikis dinding skeptisisme Elias. Selama ini ia terbiasa dengan dua kutub yang ekstrem: mereka yang menjanjikan bahwa iman adalah kunci jawaban dari segala masalah, dan mereka yang menuding bahwa iman hanyalah ilusi kolektif. Namun di hadapannya sekarang, Mara menawarkan sesuatu yang tidak masuk ke dalam kategori keduanya.

"Jadi..." Elias menarik napas panjang, membiarkan oksigen mendinginkan paru-parunya. "...Tuhan tidak mencegah luka itu terjadi."

Mara tidak berpaling. "Tidak selalu," katanya.

Jawaban itu pahit. Ia tidak menawarkan harapan instan yang menenangkan atau solusi ajaib yang melipur lara. Namun, ia tidak terasa palsu. Elias menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut di atas meja tanpa ia sadari.

"Lalu apa gunanya?" bisiknya, hampir menyerupai rintihan.

Mara mengalihkan pandangannya pada lilin kecil di atas meja. Apinya tetap tegak dan tenang, meski udara di ruangan itu terasa berat oleh beban emosi.

"Gunanya bukan untuk melarikan diri dari dunia yang kejam ini," sahut Mara perlahan. "Gunanya adalah agar kau tetap memiliki kekuatan untuk berdiri di dalamnya."

Lihat selengkapnya