Sidang Terhadap Tuhan

Dimas Hendra
Chapter #29

Chapter 29

Pagi itu merayap masuk tanpa saksi mata. Tidak ada kerumunan massa yang berdesakan, tidak ada riuh rendah suara manusia yang saling menyahut. Tidak ada tangan-tangan yang terangkat gemetar, pun tidak ada gumaman doa yang biasanya menyesaki udara dengan aroma harapan dan ketakutan. Gereja tua itu kembali pada fitrahnya yang paling jujur: kesunyian yang dingin dan purba.

Elias berdiri mematung di depan pintu kayu besar yang setengah terbuka. Ia tidak segera melangkah masuk. Jemarinya menyentuh permukaan gagang pintu yang kasar, namun gerakannya tertahan di sana. Ada sesuatu yang telah bergeser secara fundamental. Bukan pada struktur bangunannya, bukan pula pada cat dindingnya yang mengelupas, melainkan pada atmosfernya yang mendadak terasa hampa.

Ia melangkah masuk dengan perlahan. Suara sepatunya yang menghantam lantai batu menggema lebih nyaring dari biasanya, seolah-olah ruangan itu baru saja kehilangan peredam alaminya. Tidak ada suara lain yang sanggup menutupi gema itu.

Deretan bangku kayu tampak kosong melompong. Lilin-lilin di altar telah padam, menyisakan sumbu-sumbu hitam yang bengkok dan membisu. Udara di dalam sana berbau sisa malam perpaduan antara aroma lilin yang mencair, kayu tua yang lembap, dan sisa-sisa doa yang baru saja tuntas diucapkan.

Elias berjalan lurus ke arah altar tanpa tergesa. Ia menyerupai seseorang yang sudah menyadari bahwa apa pun yang ia cari di ujung sana, bentuknya telah berubah secara permanen.

Patung itu masih di sana. Kayu tua yang gelap, paku-paku besar, dan tubuh yang tergantung dalam kebisuan yang kaku. Namun, ada sesuatu yang hilang secara drastis dari sosok itu.

Ia mendekat. Lebih dekat dari semua kunjungan sebelumnya. Jauh lebih dekat dibandingkan saat ia pertama kali datang dengan kamera di tangan dan niat membara untuk membongkar kebohongan religius ini. Elias berdiri tepat di hadapan patung itu, menengadah dengan mata yang menyipit tajam.

Kering.

Tidak ada lagi tetesan yang meluncur. Tidak ada lagi cairan merah yang merembes keluar. Permukaan kayu itu kehilangan kilap basahnya yang ganjil. Yang tersisa hanyalah bekas. Garis-garis tipis kemerahan yang telah mengering dan menggelap, menyerupai jejak yang pernah ada namun kini hanya tertinggal sebagai ingatan visual yang membeku.

Elias mengangkat tangannya, sempat ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menyentuh permukaan kayu itu. Terasa dingin, kasar, dan nyata di bawah kulit telunjuknya. Ia menggosok perlahan noda kering itu, namun tidak ada reaksi. Tidak ada rahasia kimiawi yang mendadak terungkap, tidak ada mekanisme yang terpicu.

"Sudah berhenti," gumamnya pelan. Kalimat itu terasa jauh lebih berat di lidahnya daripada yang ia perkirakan.

Ia mundur selangkah, menatap ulang setiap detail patung itu seolah berharap ada sesuatu yang terlewatkan. Namun tidak ada. Fenomena itu telah mencapai titik akhirnya. Selesai.

Elias merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, dan memutar rekaman video lama. Video yang pertama kali memicu hiruk-pikuk ini. Tetesan pertama yang jatuh secara mustahil, kerumunan yang histeris, suara-suara terkejut yang berbaur dengan doa-doa penuh teror. Ia menatap layar kecil itu, lalu beralih kembali menatap patung di depannya.

Kontras itu terasa sangat mengganggu jiwanya. Di layar ponsel: sebuah gerakan yang hidup. Di depan matanya: keheningan yang mati.

Lihat selengkapnya