Hari-hari kembali bergulir dalam ritme yang biasa. Itu adalah kalimat yang terdengar sederhana, namun bagi Elias, kata "biasa" kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang sama sekali baru. Sesuatu yang asing dan tidak nyaman.
Gereja tua itu tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan fisik. Dinding-dindingnya tetap kusam dimakan usia, barisan bangku kayunya masih mengeluarkan derit rendah yang protes setiap kali diduduki, dan lilin-lilin di sudut ruangan tetap berpendar kecil, berjuang melawan bayang-bayang tanpa pretensi untuk menjadi pusat perhatian. Namun, ada sesuatu yang telah menguap pergi dari sana. Sebuah kepergian yang sunyi, tanpa menyisakan gema sedikit pun.
Tidak ada lagi antrean panjang yang mengular hingga ke trotoar. Tidak ada kilatan lampu kamera yang mengganggu kekhusyukan, tidak ada bisik-bisik antusias yang penuh spekulasi, dan tidak ada lagi massa yang saling sikut hanya untuk menyaksikan sebuah fenomena terjadi. Yang tersisa kini hanyalah kejujuran yang murni: orang-orang yang datang tanpa alasan spektakuler. Mereka datang, duduk, berdoa, lalu pulang.
Elias duduk di bangku paling belakang, posisi favorit yang selalu memberinya jarak dan kendali atas apa yang ia amati. Namun kini, jarak itu terasa lebih lebar dan lebih dalam dari sebelumnya. Ia menatap ke depan, ke arah patung itu. Sosok kayu itu tetap mematung, kering, tak bergerak, dan tak lagi meneteskan apa pun. Persis seperti hari-hari terakhir ini.
Namun, yang mengusik ketenangannya bukan lagi apa yang hilang dari patung itu, melainkan apa yang mendadak muncul dan berdenyut di dalam dirinya sendiri.
Elias memperhatikan segelintir jemaat yang datang. Beberapa lansia dengan langkah ringkih, seorang pria muda yang tenggelam dalam kesendiriannya, dan seorang ibu yang mendekap erat anaknya. Dan di barisan depan, sosok yang selalu menarik perhatiannya: Mara.
Perempuan itu duduk di bangku yang sama, di tempat yang tidak mencolok. Tangannya terlipat rapat, matanya terpejam, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang nyaris tidak masuk akal bagi Elias. Tidak ada perubahan pada dirinya. Elias memperhatikannya lebih lama dari yang berani ia akui.
"Seharusnya dia berhenti," batin Elias. Logikanya berkata bahwa jika iman seseorang dibangun di atas fondasi fenomena ajaib, maka ketika fenomena itu lenyap, iman tersebut seharusnya ikut memudar. Namun, realitas di depannya menunjukkan hal yang berkebalikan. Mara tidak menjadi lebih fanatik, pun tidak menjadi putus asa. Ia tetap setia dalam kesunyiannya. Kesetiaan yang tidak dramatis dan tidak memaksa itu justru membuat Elias merasa gelisah.
Ia membuang muka, mencoba mengalihkan pandangannya pada detail-detail lain di dalam gereja. Bangku yang kosong, pendar lilin, dan cahaya pucat yang masuk menembus jendela-jendela tinggi. Segalanya tampak begitu biasa, namun di dalam kebiasaan itu, ia merasakan sesuatu yang menganga lebar.