Jika kematian adalah titik yang tak terbantahkan sebuah kepastian biologis yang dingin maka apa pun yang datang setelahnya adalah sesuatu yang jauh lebih licin. Ia tidak bisa disentuh dengan panca indra, tidak bisa diuji dengan parameter laboratorium yang sama. Namun, justru karena sifatnya yang sulit didefinisikan itulah, ia terasa jauh lebih mengganggu kewarasan Elias.
Elias duduk mematung di depan laptopnya. Layar putih yang kosong terbuka lebar, memantulkan cahaya pucat pada wajahnya. Di sana, kursor berkedip pelan dengan ritme yang konsisten, menyerupai detak jantung yang sabar menunggu sebuah keputusan besar diambil. Ia tidak langsung mengetik. Ia hanya menatap kehampaan itu, seolah-olah sedang mencari jawaban di balik piksel yang berpendar.
"Kalau Dia memang mati..." bisiknya parau, "...kenapa semuanya tidak berhenti di sana?"
Itu adalah pertanyaan paling mendasar yang bisa diajukan oleh seorang investigator. Dan justru karena kesederhanaannya, pertanyaan itu menjadi mustahil untuk dihindari. Secara historis, polanya selalu sama: seorang guru karismatik mati, gerakannya perlahan bubar, para pengikutnya pulang ke kehidupan masing-masing, dan sejarah melanjutkan dirinya tanpa meninggalkan catatan yang berarti.
Namun dalam kasus pria dari Nazaret ini, pola itu patah.
Elias menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan kecamuk di dadanya. Jemarinya mulai menari di atas keyboard, mengetik satu frasa yang menjadi sumbu perdebatan selama dua milenium: Makam Kosong.
Ia membaca setiap baris referensi dengan perlahan, membiarkan setiap teori skeptis berdiri tegak di kepalanya sebelum ia mulai mengujinya hingga runtuh. Teori pertama yang paling klasik dan sering muncul adalah: Tubuh itu dicuri.
Skenarionya cukup masuk akal di permukaan. Murid-murid mengambil jasad Sang Guru, menyembunyikannya di suatu tempat yang tak terlacak, lalu mulai menyebarkan narasi bohong tentang kebangkitan. Elias mengangguk kecil, mencoba berpihak pada logika itu. "Baik," katanya, "mari kita bangun skenario itu."
Malam hari. Makam yang dijaga ketat oleh prajurit profesional. Batu besar yang menutup akses pintu. Dan di sisi lain, sekelompok murid yang baru saja lari terbirit-birit ketakutan saat guru mereka ditangkap, tiba-tiba kembali dengan keberanian baru yang luar biasa untuk melakukan operasi infiltrasi.
Gerakan jari Elias terhenti. Ia mengernyit. "Berani?" gumamnya skeptis. Ia membuka kembali catatan psikologis para murid pasca-penyaliban. Mereka digambarkan tercerai-berai, bersembunyi di balik pintu yang terkunci, dan diliputi rasa trauma yang mendalam. Mereka bukan pemimpin revolusi yang terlatih, bukan pula konspirator profesional yang dingin. Mereka hanyalah orang-orang yang kehilangan arah.
Ia mengetikkan sebuah catatan kritis: "Profil psikologis murid tidak konsisten dengan skenario konspirasi besar."