Uhuk, Marlena batuk pelan, seperti suara hujan tadi, yang memantulkan rintiknya air ke aspal. kambuh masuk angin nya datang, badan nya dingin, dia membetulkan jaket Levis nya.
"Sesekali lelaki itu melirik Marlena, diapun menjawab lirikan matanya."
Kaku untuk memulai percakapan. Tetapi lelaki itu, seperti sudah pengalaman bermain cinta. Hanya saja dia selalu agresif, sehingga banyak wanita yang hanya menghabiskan uang nya. Beberapa wanita yang dekat dengan nya, meninggalkan nya. Lena wanita kesekian kali nya.
"Kalau boleh tahu, aktivitas keseharian nya apa? Oh ya aku boleh memanggil Mbak, atau Adek, atau apa ya?"
Kita berhenti sebentar ya, mau isi bensin dulu di pom, seperti nya sudah mau habis, tersisa satu liter, baru setengah perjalanan.
Arya Wirahaguna membuka pintu mobil, penjaga pom menatap wajah gadis di mobil nya Arya.
Marlena melihat isi dompet nya, uang nya ratusan ribu penuh di dompet nya, setelah terisi penuh, mereka berangkat lagi. Hampir lupa sampai mana ya obrolan kita.
Arya Wirahaguna, melanjutkan percakapan lagi.
"Mbak boleh!"
Adek saja ya biar terkesan dekat. Godanya!
"Ya, boleh. Marlena mengangguk!"
Oh ya panggil aku, Abang saja. Namaku Arya Wirahaguna!
"Baik Pak, eh Bang Arya. Marlena senyum." Keduanya pertama memanggil, masih grogi dan sungkan!
Jauh juga kan, coba kalau naik taxi bisa habis dua ratus ribuan, kalau macet begini. Wanita lagi, malam malam sendiri, takut ada orang iseng. Arya menunjukan perhatian nya, untuk merebut hatinya.
Saya tadinya mau ke terminal naik bus saja, karena sudah pesan taxi.
"Marlena jaim, pura pura tidak butuh bantuan!"
"Ini wanita kok, songong ya". Tetapi Arya terus menerus mengajak nya cerita.
Ngomong- ngomong, itu mau beli rumah, untuk siapa. Kan masih kuliah dan kerja, belum menikah, apa untuk ibunya, apa adiknya.