"Kalau Abang yang mati duluan gimana?"
"Kita putus dong!"
"Jangan lah, kita harus sehidup semati dong" Dek!
"Lebay amat Bang. Kaya tahu saja jadwal mati nya."
Mereka berdua, saling membalas chat. Hubungan mulai saling adu gengsi, dan saling menekan.
Seorang lelaki yang di pegang oleh wanita adalah perkataan nya, jika banyak manipulatif dalam setiap janji, itu pertanda lelaki hidung belang hanya pandai bersilat lidah, hanya manis di bibir. Dan itu pula yang di pahami Lena.
"Arya Wirahaguna sudah terlihat bintik bintik palsu dalam dirinya, hanya untuk cinta sesaat"
Perkataan sepuitis penyair jika di dengarkan tersihir, seindah bait sastrawan dalam meracik paragraf yang sejuk di baca, dan mata menjadi manja, itu kesia siaan belaka, bagi wanita.
Wanita butuh di hargai bukan dengan pemberian setumpuk uang dan segudang berlian, dia butuh pembuktian dari lelakinya dalam bentuk tindakan. Kadang hanya butuh di peluk, saat dunia nya terasa berat.
"Saat Marlena putus tidak sampai menikah dengan mantan nya, dunia dirasakan gelap, dirinya runtuh, mentalnya hancur."
Manis di bibir memutar kata, menuduh penyebab nya kepada Marlena, hanya karena mendapat teguran dari atasan di kantor nya. Karena lalai bekerja, sejak menjalin hubungan dengan Marlena.
Sejak menjalin hubungan dengan Marlena. Arya Wirahaguna berbeda, mulai tidak disiplin, masuk semaunya, kadang sering izin, alasan sakit. Dan tidak tepat waktu. Dia mendapat warning, jika tidak akan di berhentikan paksa.
"Jika di gubrisnya dia, akan di PHK tanpa diberikan pesangon"
"Awal bulan ini dia bilang sudah janji waktu di kafe, kok tidak ada kabar, si Arya Wirahaguna nih" Marlena sambil melihat kalender di handphone, di usapnya lcd handphone nya seperti kotor terkena debu.
" Dia biasanya chat atau telepon. Ini kok bisu, kemana Abang itu?" Apa dia pura pura lupa ya?