Senja keunguan di awan sore itu, memanjakan mata, warna biru laut, sudah terlihat. Semilir angin berhembus pelan, semakin bersahabat alam pesisir pantai itu, untuk bercinta. Air liur rasa cinta mulai meresap dirasakan keduanya, terbawa angin rindu menjalar ke arena seluruh tubuh.
Mereka sudah sampai di pantai Carita.
Mobil di parkir. Arya dan Lena, menuju warung kopi. Memesan mie ayam dua porsi dan teh hangat manis, kopi sudah habis di warung, makanan dan air teh sudah cukup untuk mengganjal perut, sebelum terjun ke pantai.
"Abang tidak kerja, kok tiap hari tidak masuk kantor?"
Ini hari kejepit, ada libur empat hari. Kita bersenang senang saja, di Minggu ini biar awet muda, Dek.
Dapat bonus akhir tahun dari atasan nya, uang nya hampir habis. Dipakai berlibur tamasya, hanya untuk memanjakan pacar ilusi. Setelah pengeluaran membengkak, baru merasa pusing.
"Mobil nya rusak?"
Katanya mau main ke pantai, balap lari, kok malah bengong Bang. Ya sudah kita pulang saja.
Di pantai, beberapa orang bermain. Ada yang renang juga belajar motor, ada juga yang hanya duduk duduk di warung, menikmati angin senja.
Diapun baru mau jalan ke bibir pantai. Jongkok, mencari ikan hias di pantai.
Marlena iseng, air laut di semburin ke badan Arya, sampai basah, dia lari. Arya mengejar sampai sudah ke tengah pantai.
Jegur....Jegur...
Ombak pantai dari tengah menghantam, hingga Marlena terbawa arus ombak, Arya malah panik, tidak bisa berenang.
Tolong tolong....
Marlena semakin terbawa arus ombak. Dia memaksakan diri menolong, di tarik tangan Lena, dan ombak mulai tenang. Badan Arya malah menindih ke paha Marlena, saling memeluk di dalam pantai.
Hah, hah, hah.
Setelah kembali ke darat, seperti orang kelelahan. Kehabisan napas.
"Plak, paha Arya di tepuk pelan!"
Hampir saja mereka tidak kembali pulang. Terbawa arus ombak besar. Marlena hampir terhanyut ke tengah saat ombak besar menghantam.
"Bagaimana seru kan?"
Halah, seru!
"Abang seperti cemas, saya terbawa arus ombak!"
Awan di ufuk timur memerah, burung burung menari di bibir pantai, angin sepoi-sepoi dingin, menusuk tulang, matahari perlahan tenggelam, pulang ke rumah nya, tanpa pamit.
Marlena mulai tergoda, awalnya sempat kecewa, setelah di hibur di kafe, dapat hadiah ulang tahun, lalu ke pantai. Mulai terlena dengan percintaan nya. Untung nya, dia juga libur. Sama sama mengisi hari dengan bermain.
Diapun merasa lega, karena jarang jarang hiburan. Keseharian berkutat kampus, minimarket, dan rumah. Untuk meregangkan otot dan memulihkan stamina, bekerja dan kuliah lagi. Diapun menuruti ajakan nya.
Malam makin dingin, perjalanan tidak macet dan tidak juga sepi. Kendaraan menuju kota, truk mengangkut barang dan bus, masih ramai. Tetapi Arya kelelahan mengendarai mobil, dia mengajak mampir menginap di Hotel.