Kalau saya samperin ke kontrakan takut belum pulang. Arya bingung. Sedangkan Zenal mengawasi dari kejauhan di jalan raya, dia lihat lihat mobil yang berhenti di parkir di depan pinggir jalan, hanya mobil mobil yang berbelanja di depan toko. Mobil Arya tidak terlihat.
Arya pun sama melihat setiap sudut jalan, hanya ramai kendaraan motor dan mobil hilir mudik, matanya terus mengawasi jika ada motor melintas, tetapi tidak di temukan Zenal dan Lena.
Diapun menyerah bertolak untuk melanjutkan pekerjaan nya, hanya satu dua spanduk, brosur sudah di sebar, di setiap tempat, minimarket kios, dan tempat strategis lain nya.
Saat melangkah menuju gang, antara toko dan kontrakan, saat menoleh dia melihat mobil Arya.
"Oh itu mobil dia, sudah melaju untuk pulang"
Arya bukan pulang, dia masih keliling belum selesai memasang spanduk nya.
Ayo cepetan pulang, dia sudah tidak ada. Zenal starter motornya, Lena langsung naik. Ternyata Arya, masih mengikuti balik arah, mobilnya di parkir di balik gedung, dia mengawasi sekitar kontrakan nya, Lena masuk rumahnya setelah sampai depan di antar Zenal.
Arya Wirahaguna hanya memastikan kalau orang itu, yang bekerja bangunan di proyek nya. Dia belum tahu persis apakah itu teman, adik, atau ojeg Lena.
Ah mending saya puter balik, dia tidak jadi pulang kembali menuju rumah kontrakan Lena, ingin tahu jelas siapa lelaki yang bersama Lena, baru setengah kilo meter, dia membuntuti motor Zenal.
Arya panas dingin, dadadanya bergolak melihat penampakan dua sejoli saling pandang, dan melempar senyum, di depan kontrakan Lena.
Sepulang dari reuni di dalam kamar, dia masih memikirkan yang baru saja terjadi, kehidupan setiap harinya selalu berwarna. Ada sedih senang takut, dan perjalanan hidupnya penuh rasa, asin asem manis pahit dan legit, entah kenapa Arya dan Zenal bisa bertemu, di saat hatinya butuh penenang.
Cinta lama yang belum usai, di urai kembali untuk menemukan arah nya, saat bertemu Zenal di acara reuni nya.
Dia belum beranjak dari tempat tidur nya, di kamar, ibunya pun di hariaukan walaupun memanggil nya.
Setelah gagal menikah dengan Zenal. Lena dan Zenal tidak ada rasa, saling menghilang dan melanjutkan hidup masing-masing. Perasaan itu sirna, tidak ada dendam, saling menerima bahwa takdir belum berpihak.
Pertanyaan teman nya di acara reuni, mengingatkan tentang keinginan ibunya agar dia segera menikah, dan yang lelaki yang di inginkan Arya, yang selalu memberikan uang dan antar jemput jika habis jalan jalan.
"Marlena dilema antara mengenalkan Zenal atau Arya?"
Tetapi perubahan fisik Zenal yang dulu kurus kering, dan wajah hitam, sekarang berbeda atletis dan wajah nya putih, di tambah selera humornya membuat dia Ingin mengulang kembali masa indah yang terbatas jeda.
Kini rasa itu hadir kembali teriang memori indah saat dulu waktu sekolah, saling usil melempar pulpen, kadang menyembunyikan buku pelajaran nya, saling ledek, saat di kelas, kenangan itu muncul lagi, dia tersenyum sendiri di atas kasur nya.
Aku chat saja ya, pura pura nanya kerjaan nya. Marlena mengambil handphone di laci lemari nya.
"Bagaimana kerja nya, lancar?"
Iya tapi aku tidak bisa ngajak kamu ke salon. Gaji ku di kasih sedikit.
Tidak apa apa Zen eh A. Yang penting kamu kerjanya aman
"Aku mau menelpon sibuk nggak?"