Sihir Kiriman Pacar

Uus Suryadin
Chapter #14

Chapter 14 Kecelakaan

Marlena sudah berjalan keluar kampus, dia mencari Zenal ke kantin.


Sudah pergi barusan, ucap ibu penjaga kantin, mungkin pulang.


Kemana Zenal ya, masa dia pulang tidak izin ke saya


Suit, suit. Lidah nya di lipat dua jari, memanggil Lena dengan suitan, seperti memanggil burung merpati di sangkar.


Suit ...suit...suit

Suitan lidahnya semakin nyaring. Marlena menoleh dan menghampiri sambil menutup muka dengan tas, tetapi dia tertawa melihat tingkah lucu nya.



Berbeda dengan Arya yang royal, hanya saja dia tidak memberi ketegasan dan kepastian dengan Lena, seperti hanya untuk bermain main saja. Lena pun lebih terpikat hatinya oleh Zenal yang humoris tetapi pelit, dia tidak pernah keluar uang sepeserpun untuk sekedar membelikan satu tusuk cilok, justru Marlena yang selalu mentraktir nya.


Marlena cinta karena selain cinta pertama nya, juga humorisnya.


"Halo Nona Putri!"


"Halo juga Tuan Raja!"


Soalnya tidak ada suara, takutnya hilang terbawa angin. Zenal berseloroh, di motor membonceng Lena, sedangkan Marlena masih bimbang, antara menjawab pertanyaan ibunya, juga saran Dosen nya, lagi lagi tentang jodoh.


Di balik cerianya Zenal dia juga menyimpan rasa bosan, tidak bersemangat kerja bangunan kepikiran gaji yang tidak sama di berikan padanya, berbeda dengan upah pekerja yang lain, padahal dia kerja banting tulang, tangan nya pegal, kaki terkena lumpur semen, memakai sepatu bot. Tetapi upah di kurangi.


Mau mengadukan ke mandor nya takut di berhentikan, dia masih butuh pekerjaan.


Pagi itu setelah seharian mengantar jemput kuliah Marlena. Zenal masuk kerja lagi, kuli bangunan yang baru setengah jalan, bantuan sudah memasang tiang tiang besi, bercampur adukan semen, sudah mulai memasang penyangga untuk atap nya, umbul umbul bendera warna hijau, berdiri tegak, di pinggir sekitar perumahan Permata Indah.


Zenal keluar rumah, seperti ragu untuk bekerja, dia membawa motor pelan, dan sampai tempat agak siang, padahal para pekerja sudah mulai, baru lima belas menit bekerja.


Kalau mau kerja, jangan lemas. Lebih baik tidur, tegur Mandornya yang sedang mengawasi di lapangan.


"Kamu sakit?"


Sakit kanker Pak. Kantong kering.


Bukan nya sudah gajian pertama Minggu lalu.


"Habis!"


Sudah kerja lagi, nanti gajian lagi. Kamu coba naik dengan yang lain, sekitar lima orang, untuk membereskan atap.


Dia atas bangunan sudah empat orang, yang lain menderek ember ember ke atas, untuk pengecoran bagian atas.


Zenal pun naik, saat kakinya menginjak tangga, dia lengah dan adukan menimpa badan nya.


"Bruk."


Lihat selengkapnya