Sihir Kiriman Pacar

Uus Suryadin
Chapter #19

Chapter 19 Guna guna

Pagi sekali Arya, menelpon Bang Koko. Mengabarkan kejadian yang menimpanya.


Bang, kalau atasan mencari saya. Saya sakit, mobil menabrak tugu, waktu pulang dari rumah Abang. Ini juga harus ke bengkel perbaiki mobil, depan nya rusak.


"Musibah silih berganti, menyapa nya bertubi-tubi!"


Arya Wirahaguna bukan saja marah sama Marlena merambah ke teman kerja nya, yaitu Ria. Adiknya pernah menjadi mantan nya, dan Ria bertemu di tempat kerja, sebagai pembalasan adiknya dia mencari cara agar Arya di pecat di tempat kerja nya.


Arya melakukan kesalahan kesalahan dalam kedisiplinan kerja. Penipuan, tidak tepat waktu, walaupun belum fatal, di mata atasan nya sudah mencerminkan etos kerja yang mengurangi nilai prestasi nya sebagai karyawan. Selain itu, Arya sudah membuat transaksi manipulatif pembuatan biaya promosi spanduk dan brosur, ini jika tercium atasan nya, tidak segera di redam bagian keuangan yaitu Ria, dia akan hancur lebur dalam berkarir.




Ujian nya, belum mendapatkan solusi. Justru semakin terpuruk. Aset nya mulai hilang, mobil sudah rusak lagi keluar biaya, kemungkinan dia jual untuk menutupi biaya hidup karena pengeluaran membengkak. Dia rencana nya, akan menjual mobil Avanza nya, dan membeli motor.


Sebelum terdengar atasan nya, Arya menemui Ria. Membawakan bingkisan yang mewah, dan menjanjikan akan memberinya uang penutup mulut, agar tidak terbongkar atasan nya, Gemilang Jaya. Diapun langsung menemui Ria.


Setelah dari rumah Ria. Dia pulang sebentar dari bengkel, beberapa jam lagi mobilnya selesai di perbaiki. Ria sudah berangkat ke kantor nya.


Dalam keadaan pusing, dia mengirimkan chat di luar kendalinya memakai Marlena kedua kalinya.


"Dasar lu Jablay Dongdot. Cewek murahan"


Pantangan Mbah Petot di langgar.


"Refleks, Marlena memblokir nomornya tanpa ampun!"


Dia mengusap layar handphone, di bacanya menu yang ada di handphone, di lihat satu satu nomor handphone, Marlena tidak di temukan. Arya pun, reflek tangan nya sudah di ayunkan, untuk membanting handphone nya.


Lalu...


Dia masukan ke laci meja, di ambil lagi. Di lemparkan ke atas bantal di kamarnya.


Di kantor bagian pemasaran perumahan gemilang Residance nampak sepi, sesekali dan sebentar atasannya datang, karena proyek sudah selesai, hanya untuk menghitung pengeluaran pemasukan dengan pembukuan keuangan, biaya yang di anggarkan dari kontraktor. Baik biaya bahan bangunan, juga biaya promosi, dan upah pekerja. Hari itu, Gemilang Jaya hanya satu jam masuk kantor, pulang kembali.


"Ria, bendahara sudah di sogok sama Arya, tetapi atasan tidak mengadakan meeting. Arya mungkin akan selamat, dari jeratan Ria, atau sebaliknya akan di buka aib nya saat rapat."


Marlena tidak terima, sakit hati dengan cacaian Arya. Dia tidak menangis, di dalam kamarnya, dia menelpon Zenal. Untuk bertemu di salah satu tempat, untuk menghibur diri.


"Hallo A, ada waktu kita jalan jalan?"


Siap.


Zenal langsung mendatangi pacarnya Marlena untuk berkencan. Marlena sudah menunggu dan stand by, Zenal pun sudah ada depan kontrakan nya. Mereka keliling kota, setelah puas menikmati senja di depan alun alun, di kelilingi pohon, sangat sejuk.


Lihat selengkapnya