Sihir Kiriman Pacar

Uus Suryadin
Chapter #21

Chapter 21 Santet

Pengaruh sihir sudah mulai masuk, Marlena selalu terbayang wajah Arya Wirahaguna dan kenangan nya. Dan hubungan dengan Zenal dingin dan kaku. Seperti tidak ada rasa, tidak ada cinta, kangen, apalagi rindu. Zenal pun sama.


"Sudah terdengar ke para Dosen juga teman kuliah nya, kabar dari Zenal!"


Bahwa Marlena sakit keras, terkena santet.


Salsa dan beberapa Mahasiswa menengoknya, mereka kehilangan sosok Marlena. Apalagi wisuda sebentar lagi hanya menghitung hari. Setelah sidang skripsi dia sakit, tetapi bukan sakit biasa, bukan luka pisik. Namun teman nya menyarankan untuk berobat.


"Cepat sembuh Neng Lena, sebentar lagi wisuda. Dosen Bendri mensupport nya!"


Merasa di hantui bayangan Arya. Lena memblokir nomor nya, dan mungkin itu balasan chat terakhir kalinya.



Setelah memblokir nomor handphone Arya, Marlena mendadak sakit, awalnya hanya demam biasa, dan flu. Dan batuk ringan, semakin hari semakin parah. Panas dingin, malam menggigil, siang panas tinggi, diapun tidak kerja dan ke kampus.


Arya Wirahaguna melihat lihat handphone nya, sambil berbaring di kamar. Dia mengobati stresnya menunggu jawaban Lena, tetapi justru tidak di temukan nomor handphone nya, Lena sudah memblokirnya.



"Kiriman sihir santet melalui fhoto sudah mulai masuk ke badan Marlena!"


Siang dan malam Marlena sering mengalami keanehan. Dia seperti melihat sosok Arya Wirahaguna terus menghantuinya. Jika malam badan menggigil kedinginan, jika siang seperti di tanah gersang kemarau panjang kepanasan. Kipas angin harus selalu dekat dengan dirinya tetapi jika dingin, selimut tebal harus memeluknya.


Zenal membawa Marlena untuk berobat ke klinik. Pihak perawat hanya memberikan resep obat, untuk pencegahan sementara.


"Ini hanya demam, mungkin harus banyak istirahat. Minum yang cukup, dan kurangin overthinking, banyak makan buah dan sayuran." Terang perawat sambil memberikan resep obat.


"Di minum tiga kali sehari, itu ada keterangan nya. Perawat klinik, menunjuk bungkus plastik berisi kapsul obat obatan."






Senja itu berbeda, kelabu. Komplek perumahan taman puri indah geger. Anak gadis Marfuah menjadi cibiran para tetangga nya. Sejak Marlena terdengar sakit terkena santet. Rumah cat tembok nya mengelupas, dinding retak, penghuni rapuh karena musibah menimpa nya.


Marlena sering melihat keanehan di rumah nya, apalagi malam datang. Suara seng berbunyi nyaring, tidak ada angin tidak ada rintik hujan. Sering ada burung terbang ke depan jendela nya, gagang pintu pun dingin padahal ibu dan adik nya, tidak menemukan kejanggalan itu.


Hanya di rasakan Marlena.


Jika malam datang, menjadi momok menakutkan bagi Marlena. Setelah berobat tidak ada kesembuhan. Justru panas dingin, marah, gelisah, rasa takut, semakin menjadi. Saat masuk kamar tidur nya, dia menjerit.


"Ibuuu... takut. Marlena teriak, membuka pintu!"


Ada apa Nak, ibunya memeluknya.


Itu itu, Lena menunjuk cermin lemari kamarnya. Dia melihat retakan kaca pecah, dan wajahnya mantul berdarah.


"Tidak ada apa apa. Ibu nya menenangkan."


Takut...Bu.


Tidak ada apa apa, Marfuah mengusap cermin kaca lemari nya, di kamar.


"Bayangan Arya Wirahaguna menghantui nya."

Lihat selengkapnya