Zenal Al Gokili menjadi tameng di balik keluguan nya, jiwa pelindung bagi Marlena. Bagai batu karang yang tidak mudah di hempas badai restu, menjadi taruhan nyawa, menjadi pelipur duka suka nya Marlena.
Tetap tegar berdiri kokoh, walaupun berjauhan jarak dan waktu selalu menemani Marlena. Keduanya selalu setia, entah kapan takdir jodoh berpihak pada mereka,
Jarak ruang dan waktu, bukan penghalang mereka tetap masih seperti awal kenal dan bertunangan. Tidak ada alasan untuk tetap bersama, meskipun terhalang restu ibu.
Marlena kerja lebih bagus, sekarang menjadi kasir swalayan besar di Jakarta dan gaji lebih besar dari yang dulu saat kerja di minimarket Serang. Setelah menjadi Sarjana, karir nya semakin maju. Diapun ingin membeli rumah KPR.
Marlena menyisihkan setiap bulan dari hasil kerjanya. Dia kadang ada kerja tambahan, lembur. Sehingga pemasukan dari upah lembur, di tabung. Dia masih berusaha mewujudkan mimpi memiliki rumah, dia akan membeli KPR, walaupun nyicil tahunan, yang penting punya rumah sendiri.
Zenal merintis usaha dagang sayur, depan rumah nya. Sudah berjalan satu bulan. Penghasilan upah dari kuli bangunan di sisihkan untuk usaha dagang sayur mayur. Walaupun pelit, dia pandai mengatur keungan. Penghasilan harian tetap berjalan dari jualan sayur, dan jika ada yang mengajak kuli bangunan dia tetap lakukan.
Gajian pertama nya Marlena kerja di swalayan di Jakarta bisa untuk membantu adik nya Lina dan Luna, melanjutkan sekolah. Dia masih terus berbakti, walaupun ibu nya tidak mengizinkan menikah dengan Zenal.
"Bagaimana ya A, ibu ku masih belum setuju untuk hubungan kita, padahal aku sudah banyak memberikan uang biaya untuk adik adiku, juga nafkah sehari hari?"
Marlena mengadu ke Zenal melalui telepon.
"Sabar saja, mungkin harus mendapatkan wangsit turun dari langit dulu kali ya!"
Serius Aa jangan bercanda.
"Ya ini juga serius. Lagian mau bagaimana. Mau nikah lari?"
Masalahnya aku tidak mau pakai cara begitu, Neng.
Aku takut di grebek masa, lalu di penjara di bawa ke Polsek. Aku masih ingin hidup di alam bebas, penjara kan tempat orang berandalan.
Walaupun kita belum bisa seperti orang lain, merayakan bahagia.
Tiba tiba tunangan
Tiba tiba lamaran
Tiba tiba menikah
Kita mah yang penting tiba tiba habis uang, terus gajian lagi. Kita yang penting.
Haha
Hehe
Hihi.
Marlena mau sedih pun, tidak jadi mendengar alasan Zenal. Akhirnya dia terhibur karena baru saja mengirimkan gaji pertama nya untuk biaya sekolah dan kuliah adik nya. Dia pun tertawa girang, mendengar ucapan Zenal saat menelpon nya.
Marlena menutup percakapan di telepon nya dengan tertawa.