Hujan di Kota Banjar seolah tidak mau berhenti. Airnya mengguyur atap seng rumah Dimas dengan suara gemuruh yang menyakitkan telinga, bersahutan dengan lantunan Surah Yasin yang bergema di ruang tengah.
Aroma kapur barus dan melati yang layu menguar pekat, bercampur dengan bau tanah basah yang terbawa angin masuk. Ini adalah malam ketiga sejak Dimas meninggal dunia. Meninggal dengan cara yang tidak wajar—kecelakaan tunggal di jalan sepi, dengan mata terbelalak seolah melihat sesuatu yang mengerikan sebelum mobilnya menghantam pohon..
Aku duduk bersimpuh di dekat pintu, memeluk lutut. Mataku menyapu ruangan yang dipenuhi pelayat. Di tengah lingkaran bapak-bapak yang sedang khusyuk berdoa, ada satu sosok yang membuatku merasa sedikit tenang.
Rayyan.
Dia duduk paling depan, mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam. Suaranya terdengar paling jelas saat memimpin tahlil, merdu namun menyayat hati. Wajahnya tampak lelah, kantung matanya menghitam, tapi ia tetap tegak. Sejak jenazah Dimas tiba di rumah duka kemarin lusa, Rayyan-lah yang paling sibuk. Dia yang memandikan jenazah, dia yang mengurus tenda, dan dia pula yang menenangkan orang tua Dimas yang histeris.
Jika tidak ada Rayyan, mungkin kami semua sudah gila.
"Arin..."
Sebuah tepukan pelan di bahu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Bobi, pacarku, duduk di sampingku dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara malam ini sangat dingin.
"Kenapa, Bob?" bisikku.
Bobi menelan ludah, matanya liar menyapu sudut ruangan yang gelap.
"Aku kada tahan nah, Rin. Hawanya panas banar di sini. Rasa ada nang manjagai kita matan tadi." (Aku tidak tahan, Rin. Hawanya panas sekali di sini. Rasanya ada yang mengawasi kita dari tadi.)
Aku merinding. Kutepis perasaan itu dan menggenggam tangan Bobi yang sedingin es.
"Hussh, jangan bepandir sembarangan. Itu perasaan ikam aja pang. Kita lagi bedoa gasan Dimas." (Hussh, jangan bicara sembarangan. Itu perasaan kamu saja. Kita sedang berdoa buat Dimas.)
Bobi menggeleng kuat, cengkeramannya di tanganku makin kencang hingga terasa sakit. "Lain, Rin! Lain perasaan! Ikam kada mencium kah? Bau anyir darah... kuat banar." (Bukan, Rin! Bukan perasaan! Kamu tidak mencium baunya kah? Bau anyir darah... kuat sekali.)