Sihir

Arham FR
Chapter #2

Bab 2

Lampu kamar menyala kembali setelah lima menit yang terasa seperti lama.

Cahaya putih neon yang berkedip-kedip itu memperlihatkan pemandangan yang membuat perutku mual. Nada terbaring lemas di kasur busa kamar tamu itu. Napasnya tersengal-sengal pendek, seperti orang yang baru saja tenggelam. Keringat membanjiri tubuhnya hingga daster yang ia kenakan basah kuyup, mencetak tulang-tulang rusuknya yang kini terlihat menonjol.

Padahal sebulan lalu, Nada masih terlihat segar dan berisi.

Tapi bukan itu yang membuatku ingin muntah. Melainkan baunya.

Aroma amis yang sangat tajam, seperti bau ikan busuk yang dicampur dengan wangi bunga kantil yang sudah layu, menguar pekat di dalam kamar yang sempit ini. Aku menutup hidung dengan ujung kerudungku.

"Baunya menyengat banar, Yan. Kada tahan aku," keluhku sambil menahan mual. (Baunya menyengat sekali, Yan. Tidak tahan aku.)

Rayyan tidak menjawab. Ia sibuk mengusap kening Nada dengan ujung lengan baju kokonya, tapi tetap terlihat sangat peduli. Wajahnya serius, bibirnya tak henti-hentinya bergerak tanpa suara.

"Panas, Rin. Coba ikam pegang," perintah Rayyan tanpa menoleh.

Aku memberanikan diri mendekat dan menyentuh punggung tangan Nada. Aku tersentak dan refleks menarik tanganku kembali. Kulit Nada terasa melepuh, panasnya tidak wajar, seperti menyentuh panci yang baru diangkat dari kompor. Lebih mengerikan lagi, ada bercak-bercak merah keunguan di bawah kulit lengannya, seolah darahnya mendidih di dalam.

"Ya Allah... ini lain demam biasa, Yan. Kita bawa ke rumah sakit lagi kah? Tadi sore kan cuma dikasih obat jalan," suaraku bergetar.

Rayyan menggeleng pelan. Ia bangkit berdiri, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah botol plastik kecil berisi air bening yang keruh sedikit.

"Dokter bilang inya stres berat kehilangan Dimas, Rin. Amun dibawa ke IGD lagi, paling disuntik penenang. Kasihan ginjalnya amun tarus-tarusan (terus-terusan) kena kimia," ujar Rayyan dengan nada lembut namun tegas.

Rayyan membuka tutup botol itu. "Aku ada minta banyu (air) lawan Guru di Sekumpul tadi pas lewat mau ke sini. Mudahan berkah, kawa maademkan panasnya."

Mendengar nama daerah Sekumpul disebut, hatiku sedikit lega. Sekumpul adalah daerah agamis yang sangat dihormati di Banjar. Jika air ini dari sana, pasti aman.

Lihat selengkapnya