Sihir

Arham FR
Chapter #3

Bab 3

Jalanan aspal basah memantulkan cahaya lampu jalan yang remang-remang. Aku memacu motor membelah kesunyian malam menuju kos Bobi. Di boncengan, Bobi memeluk pinggangku begitu erat, seolah jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, sesuatu akan menariknya jatuh ke aspal.

Tubuh Bobi terasa panas, tapi ia menggigil hebat. Giginya bergemelatuk.

"Sabar, Bob. Sadumat lagi sampai," teriakku melawan angin malam. (Sabar, Bob. Sebentar lagi sampai.)

Sesampainya di parkiran kos Bobi, ia langsung melompat turun dari motor dan berlari masuk ke kamarnya tanpa menungguku. Aku buru-buru mengunci stang motor dan mengejarnya.

Saat aku masuk, Bobi sudah meringkuk di pojok kamar, di antara lemari dan tembok. Lampu kamar dinyalakan semua, tapi Bobi tetap menutupi wajahnya dengan bantal.

"Bob... ikam kenapa garang? Jangan maulah aku takutan," tanyaku pelan, mendekatinya perlahan. (Bob... kamu kenapa sih? Jangan bikin aku takut.)

Bobi menyingkirkan bantalnya sedikit. Matanya merah, penuh urat-urat halus yang pecah. Ia menatapku dengan tatapan nanar.

"Rin... di rumah Dimas tadi... ikam bujur kada malihat kah?" suaranya parau. (Rin... di rumah Dimas tadi... kamu beneran tidak melihat kah?)

"Melihat apa?"

"Di belakang Rayyan," bisik Bobi, suaranya bergetar ngeri. "Ada nang bediri tinggi, hirang, matanya habang. tangannya memegang bahu Rayyan." (Di belakang Rayyan. Ada yang berdiri tinggi, hitam, matanya merah... tangannya memegang bahu Rayyan.)

Aku menghela napas panjang, merasa prihatin. Bobi pasti sangat terguncang dengan kematian Dimas sampai berhalusinasi seperti ini. Jelas-jelas tadi Rayyan sendirian, sedang berdoa dengan khusyuk.

"Itu perasaan ikam aja, Bob. Rayyan tu lagi ngaji, mana mungkin ada setan berani parak. Mungkin setan itu handak mengganggu ikam, tapi ikam malah melihatnya di dekat Rayyan," jelasku mencoba logis. (Itu perasaan kamu saja, Bob. Rayyan itu lagi mengaji, mana mungkin ada setan berani dekat. Mungkin setan itu mau mengganggu kamu, tapi kamu malah melihatnya di dekat Rayyan.)

Bobi menggeleng keras, ia terlihat frustrasi karena aku tidak percaya. "Kada, Rin! Rayyan tu..."

BLAM!

Pintu kamar mandi Bobi tiba-tiba terbanting menutup sendiri dengan keras.

Kami berdua terlonjak. Aku menjerit kecil. Bobi langsung menutup telinganya dan berteriak histeris.

"Inya datang! Inya umpat aku bulik! Arghhh!" (Dia datang! Dia ikut aku pulang! Arghhh!)

Lampu kamar tiba-tiba berkedip cepat, lalu mati total. Kegelapan menyergap kami. Udara di dalam kamar yang tadinya pengap mendadak berubah menjadi dingin yang menusuk tulang.

Di tengah kegelapan itu, terdengar suara geraman rendah. Bukan dari kamar mandi, tapi dari langit-langit kamar, tepat di atas kepala kami.

Lihat selengkapnya